Sabtu, 2 Maret 2024

Perdana Menteri Jepang Nyatakan Siap Bertemu Kim Jong-un untuk Pulihkan Hubungan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Fumio Kishida Perdana Menteri Jepang. Foto: Reuters

Fumio Kishida Perdana Menteri Jepang, menyatakan kesiapannya bertemu Kim Jong-un Pemimpin Korea Utara (Korut) sebagai upaya mencapai dunia tanpa senjata nuklir.

Melansir Antara, Hal itu seiring keinginan Jepang menyelesaikan semua masalah dengan Korut, termasuk serangkaian uji rudal dan penculikan warga Jepang di masa lalu.

“Saya ingin bertemu Kim Jong-un kapan pun tanpa syarat,” ucap Kishida di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Selasa (19/9/2023) kemarin.

Dia mengakui kalau Jepang ingin memulihkan hubungan dengan Korut, dan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi serta petemuan puncak dalam waktu dekat.

Perdana Menteri asal kota Hiroshima yang terkena bom atom itu mengatakan, perlucutan senjata nuklir adalah misi seumur hidupnya.

Dia menyerukan kepada negara-negara bersenjata nuklir untuk meningkatkan keterlibatan mereka pada perlucutan nuklir. Kishida juga menyatakan bahwa Jepang akan berkontribusi sebesar 3 milyar yen (sekitar Rp311,5 milyar) untuk mencapai dunia tanpa senjata nuklir.

“Dana tersebut akan digunakan untuk riset dan pembuatan kebijakan mengenai perlucutan,” kata dia.

Kishida menekankan petingnya keterlibatan dan dialog dengan negara-negara bersenjata nuklir untuk perlucutan tersebut. “Ancaman nuklir harus dihentikan,” ujarnya menambahkan.

Menurutnya, dunia berada pada titik perubahan bersejarah. Untuk itu, pelanggaran hukum internasional dan mengubah status quo dengan kekerasan adalah hal yang tidak dapat diterima di mana pun di dunia.

“Serangan terhadap Ukraina belum berhenti,” kata Kishida, seraya mendesak Rusia untuk menghormati kedaulatan wilayah Ukraina, yang merupakan prinsip dasar hukum internasional.

“Ada keinginan putus asa untuk perdamaian, dan kita harus berupaya menuju dunia yang penuh perdamaian dan kerjasama, bukan perpecahan,” ucapnya.

Dia menekankan, untuk mendukung multilateralisme yang kuat dan efektif, dunia perlu peduli terhadap martabat manusia untuk hidup dalam keselamatan dan keamanan. “Di dunia yang semakin terpecah, kita perlu bahasa yang sama,” tambah dia.

“Masyarakat internasional bisa mengatasi perpecahan melalui kerja sama internasional yang berpusat pada manusia berdasarkan konsep keamanan manusia,” imbuhnya seraya menyerukan langkah-langkah untuk menghindari krisis pangan. (ant/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Sabtu, 2 Maret 2024
28o
Kurs