Selasa, 25 Juni 2024

Pertemuan Xi Jinping dan Vladimir Putin Hasilkan Lima Kesepakatan 2 Negara

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Xi Jinping Presiden China (kanan) dan Vladimir Putin Presiden Rusia (kiri) bertemu di Beijing, China pada Kamis (16/5/2024). Foto: Antara Xi Jinping Presiden China (kanan) dan Vladimir Putin Presiden Rusia (kiri) bertemu di Beijing, China pada Kamis (16/5/2024). Foto: Antara

Pertemuan antara Xi Jinping Presiden China dan Vladimir Putin Presiden Rusia mencapai lima kesepakatan terkait hubungan bilateral kedua negara. Kesepakatan itu terjadi setelah Putin melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 16-17 Mei 2024.

“(Kesepakatan) pertama, kedua presiden sepakat bahwa kunci bagi kedua negara untuk peningkatan hubungan antara sesama negara besar dan sesama negara tetangga terletak pada rasa saling menghormati dan kesetaraan, serta saling mendukung dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan utama masing-masing negara,” demikian disampaikan dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China pada Kamis (16/5/2024), dikutip Antara.

Pertemuan antara Xi dan Putin berlangsung di Balai Besar Rakyat di Beijing pada, Kamis (16/5/2024) pagi. Kunjungan kenegaraan Putin tersebut adalah yang pertama sejak ia kembali dilantik sebagai Presiden Rusia pada 8 Mei 2024.

“Kedua negara akan menjunjung tinggi prinsip non-aliansi, non-konfrontasi dan tidak menargetkan pihak ketiga mana pun, terus memperdalam kepercayaan politik dua arah, menghormati pilihan pembangunan satu sama lain dan mewujudkan pembangunan dan revitalisasi dengan dukungan kuat satu sama lain,” demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Kesepakatan kedua adalah China dan Rusia berkomitmen terhadap kerja sama yang saling menguntungkan dan berupaya menumbuhkan paradigma baru yang saling menguntungkan.

Pada 2023, perdagangan kedua negara disebut melebihi 240 miliar dolar AS atau meningkat hampir 2,7 kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.

Kedua presiden sepakat agar kedua negara melakukan perbaikan struktural lebih lanjut dalam kerja sama mereka, mengonsolidasikan momentum baik dalam perdagangan maupun kerja sama tradisional lainnya, hingga membuka potensi kerja sama di bidang pelabuhan, transportasi dan logistik, serta membantu menjaga industri global dan rantai pasok tetap stabil.

Kesepakatan ketiga, lanjut pernyataan tersebut, China dan Rusia berkomitmen untuk menjaga persahabatan abadi sebagai landasan hubungan dan meneruskan obor persahabatan China-Rusia.

“Baik China maupun Rusia memiliki sejarah panjang dan budaya yang indah. Karya-karya Pushkin dan Tolstoy sangat terkenal di China sementara Opera Peking serta Tai Chi sangat digemari oleh masyarakat Rusia,” demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Kedua presiden menetapkan tahun 2024 dan 2025 sebagai Tahun Kebudayaan China-Rusia, mengusulkan serangkaian kegiatan kebudayaan yang membumi, dekat di hati masyarakat dan populer di kalangan mereka, serta mendorong interaksi yang lebih erat antar berbagai sektor dan di tingkat lokal sehingga meningkatkan saling pengertian dan kedekatan antara kedua bangsa.

Kesepakatan keempat, China dan Rusia berkomitmen terhadap koordinasi strategis sebagai landasan hubungan, dan mengarahkan tata kelola global ke arah yang benar.

China dan Rusia akan tetap menjalin koordinasi dan kolaborasi yang erat dalam kerja sama multilateral seperti PBB, APEC dan G20, serta memajukan multipolarisme dan globalisasi ekonomi.

Dengan Rusia sebagai ketua BRICS pada 2024 dan China mengambil alih kepemimpinan Organisasi Kerja Sama Shanghai pada akhir 2024, kedua presiden akan saling mendukung kepemimpinan masing-masing.

Kesepakatan kelima, China dan Rusia berkomitmen terhadap keadilan dan berdedikasi pada penyelesaian lewat jalur politik atas berbagai konflik.

Kedua presiden berpandangan bahwa penyelesaian konflik Palestina-Israel adalah hal yang mendesak. Resolusi-resolusi PBB harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan permasalahan Palestina harus diselesaikan berdasarkan solusi dua negara.

“Kedua presiden percaya penyelesaian jalur politik adalah jalan yang tepat untuk mengatasi krisis Ukraina. Posisi China dalam masalah ini konsisten dan jelas, termasuk mematuhi tujuan dan prinsip Piagam PBB, menghormati kedaulatan dan integritas wilayah semua negara, menghormati keamanan semua pihak, dan membangun arsitektur keamanan baru yang seimbang, efektif dan berkelanjutan,” seperti tertulis dalam pernyataan tersebut. (ant/azw/bil)

Berita Terkait

..
Surabaya
Selasa, 25 Juni 2024
26o
Kurs