Jumat, 2 Januari 2026

Hasil Survei INSIS Soal Capres Muda Tidak Meyakinkan

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan

Hadjriyanto Y Thohari Ketua DPP Partai Golkar tidak yakin hasil survei Indonesia Survei Institute (INSIS) yang menyimpulkan bahwa rakyat Indonesia menghendaki capres muda dalam Pilpres 2014.

Sangat meyakinkan bahwa bagi rakyat tidak relevan dikotomi tokoh muda dan tua dalam Pilpres 2014. Yang jauh lebih penting dan urgen bagi rakyat adalah hadirnya tokoh yang otentik dan bersih (dan membersihkan).

Menurut Hadjri, capres tua atau capres muda tidak ada bedanya alias “setali tiga uang” saja kalau dua-duanya tidak bersih dari korupsi! Pasalnya, Presiden yang bersih saja belum tentu bisa membersihkan negara ini dari korupsi, apalagi Presiden yang tidak bersih!

“Kita butuh tokoh yang “bersih dan membersihkan” untuk menjadi Presiden RI, tak peduli dia berusia tua atau muda!” papar Hadjri, di Jakarta Rabu (15/1/2004).

Kata dia, untuk apa tokoh muda kalau faktanya belepotan dengan korupsi dan suap? Tentu rakyat senang kalau muncul tokoh muda dalam Pilpres 2014. Tetapi bukan faktor mudanya, tetapi bersihnya! Kalau ada tokoh muda yang bersih dan membersihkan, ibarat air mutlak yaitu air suci yang menyucikan, tentu itu sangat ideal.

“Tetapi kalau dia tokoh muda tetapi indikasi koruptifnya begitu kuat, ya untuk apa kita punya presiden muda tetapi korup? Sebab, korupsi lah yang menjadi tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini,” ujar Hadjri.

Lebih lanjut Hadjri yang juga wakil ketua MPR ini menjelaskan, munculnya tokoh yang bersih dan membersihkan lah yang jauh diperlukan oleh bangsa ini. Presiden Tua atau Presiden muda itu sekunder atau malah tersier saja. Yang primer adalah Presiden yang bersih dan membersihkan.

Hadjri mengungkapkan, sekali lagi, rakyat tidak peduli capres tua atau capres muda. Bagi rakyat yang penting adalah capres mana yang secara otentik bersih dan mampu membersihkan Indonesia dari korupsi!

Sekadar diketahui, ada empat tokoh muda dari partai politik, dua di antaranya Pramono Anung dari PDIP dan Priyo Budi Santoso (Golkar) keduanya Wakil Ketua DPR RI berpeluang menjadi calon presiden alternatif berdasarkan Indonesia Survei Institute (INSIS) yang diumumkan di Jakarta, Minggu (9/12/2014).

Hasil survei INSIS menyebutkan, empat tokoh memiliki elektabilitas tertinggi di masyarakat dan berpeluang menjadi calon presiden (capres). Selain Pramono dan Priyo, tokoh lainnya yang juga berpeluang menjadi capres, yaitu Hidayat Nur Wahid (Ketua Fraksi PKS) dan Puan Maharani (Ketua Fraksi PDIP) keempat tokoh tersebut secara elektabilitas, akseptabilitas maupun popularitas berada di posisi teratas dibandingkan tokoh muda partai politik lainnya.

Mochtar W Oetomo Peneliti INSIS mengatakan, dari sisi akseptabilitas (kesukaan), Priyo Budi Santoso menempati posisi teratas dengan dukungan 53,73 persen. Diikuti secara berturut-turut Puan Maharani (51,02 persen), Pramono Anung (49,53 persen), Hidayat Nur Wahid (47,75 persen), Tjahjo Kumolo (43,08 persen), Zulkifli Hasan (41,77 persen), Budiman Sudjatmiko (38,13 persen) dan Anas Urbaningrum (37,47 persen).(faz/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Jumat, 2 Januari 2026
25o
Kurs