Rabu, 12 Agustus 2020

Kehadiran Medsos Tumbuh Suburkan Kebiasaan Nyinyir

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Live Instagram KelaSS Pintar Suara Surabaya pada Rabu (8/7/2020) dengan topik Nyinyir Tiap Hari Are You Okay? Foto : Totok suarasurabaya.net

Karakteristik media sosial menumbuhkan kebiasaan nyinyir di masyarakat. Betari Aisah Kepala Departemen Kesehatan Mental Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Bristol, United Kingdom mengatakan, medsos memungkinkan orang berlindung dibalik identitas anonim dan menghindari dampak langsung dari nyinyiran yang dilontarkan.

“Karena medsos memberi ruang agar orang tidak terdampak langsung. Di balik identitas anonim. Di dunia nyata, orang bisa langsung marah ke kita. Di medsos minim risiko. Jadi orang lebih berani,” katanya saat menjadi pemateri di Live Instagram KelaSS Pintar Suara Surabaya pada Rabu (8/7/2020).

Betari menambahkan, banyak orang juga bersembunyi di balik alasan kebenasam pendapat. Tapi, ia menegaskan, kebebasan tentu tidak boleh melangkahi kebebasan orang lain.

“Kalau di UU bahasanya ujaran kebencian. Kalau sudah menyakiti orang lain, menyerang,” tegasnya.

Ia mengatakan, perbuatan nyinyir sudah berumur jauh lebih tua dari kemunculan internet dan medsos. Tapi, nyinyir menjadi seolah menemukan momentumnya saat media sosial mulai jamak digunakan masyarakat.

“Tiap generasi pasti ada orang nyinyir. Tapi di zaman internet, jadi lebih mudah. Berseliweran. Kita ada internet. Yang membuat nyinyir bersirkulasi kapan pun di manapun,” ujarnya.

Ia mengatakan, hampir tidak mungkin menghindari nyinyiran orang di media sosial. Betari menyebut, respon orang pada sesuatu di media sosial bisa sangat tidak terduga.

“Kalau kita main medsos, kita harus siap dengan respon orang-orang yang beragam di medsos,” kata Betari.

Betari mengatakan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang untuk menghadapi nyinyiran. Cara pertama yang bisa dilakukan adalah tidak reaktif atau tidak merespon secara langsung nyinyiran yang ditujukan kepada kita.

“Menghindari bereaksi secara langsung. Kita harus tahan dulu. Tidak langsung realtif. Takutmya tidak menyelesaikan masalah,” ujar Betari.

Kedua, kita perlu mengevaluasi, apakah nyinyiran yang ditujukan untuk kita merupakan sebuah kenyataan atau hanya sebatas nyinyiran tak berdasar.

“Kita evaluasi, apa ini kenyataan atau hanya nyinyiran dia. Kalau ini kenyataan, apa yang harus dilakukan agar jadi lebih baik. Kalau ini cuman nyinyiran, ya sudah. Kita perlu kasihan pada orang yang harus nyinyir agar merasa baik,” katanya. (bas/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Rabu, 12 Agustus 2020
26o
Kurs