Rabu, 5 Agustus 2020

Pengaturan Keuangan Keluarga Mutlak Dilakukan Selama Pandemi

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi. Foto : Pixabay

Dr. Werner Ria Murhadi, S.E., M.M., CSA., Ketua Program Studi Magister Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya mengatakan pengaturan keuangan keluarga di tengah pandemi menjadi hal mutlak. Dia mencontohkan seperti yang terjadi selama triwulan 2 di bulan April-Juni 2020 ketika PSBB berlangsung, yang menghentikan kegiatan produksi ekonomi. Dampaknya, perusahaan harus mengurangi jam kerja karyawan hingga langkah yang lebih ekstrem yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Pandemi ini membuat ekonomi keluarga terdampak. Ditambah lagi kegiatan belajar mengajar yang kembali aktif meskipun dilakukan secara daring, membuat pos pengeluaran yang lebih besar untuk pembelian kuota pulsa. Beban listrik dan air meningkat karena anggota keluarga beraktivitas dari rumah.

“Kondisi pengaturan keuangan menjadi hal yang perlu dilakukan. Banyak yang mengalami pengurangan pemasukan, secara bersamaan pengeluaran tetap berjalan normal atau bahkan meningkat,” kata Werner saat dihubungi suarasurabaya.net, Kamis (30/7/2020)

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan check-up kondisi keuangan keluarga, dengan mellihat persentase pengeluaran masing-masing pos yang patut dicermati.

“Pertama, pengeluaran konsumsi keluarga, kebutuhan sehari-hari, dan pendidikan anak yang bersifat tetap. Selanjutnya pengeluaran keperluan listrik, air, dan pulsa yang cenderung meningkat, apalagi dengan kerja dan sekolah online. Terakhir, pengeluaran kesehatan untuk membeli vitamin dan obat-obatan untuk mencegah turunnya imunitas,” katanya.

Di lain sisi, pengeluaran transportasi jelas berkurang, begitu pula dengan pengeluaran untuk membeli pakaian, kosmetik maupun hiburan.

Setelah mengetahui pos-pos besar, Werner menyarankan untuk menekan pengeluaran yang tidak terlalu penting dengan membuat skala prioritas. Caranya, dengan menentukan apakah itu termasuk kebutuhan dasar, sekunder atau tersier. Kebutuhan yang bersifat mendasar seperti keperluan keluarga sehari-hari dan pendidikan tentu menjadi prioritas utama, sedangkan pengeluaran tersier seperti jalan-jalan maupun kosmetik dapat ditiadakan sementara waktu.

Namun apakah pengurangan biaya tersebut cukup seimbang dengan peningkatan biaya-biaya rumah tangga? Untuk itu keluarga juga harus menggali alternatif pendapatan.

“Ada beberapa aktivitas yang dapat meningkatkan pendapatan seperti melakukan penjualan online, memanfaatkan talenta seperti membikin makanan atau kerajinan, hingga memberdayakan pekarangan rumah untuk tanaman toga dan empon-empon,” ujarnya.

Werner menambahkan, di situasi ekonomi seperti saat ini pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus untuk mendorong roda ekonomi. Keluarga terdampak Covid-19 dapat mencari informasi terkait dengan program jaring pengaman sosial seperti Program Keluarga Harapan, Padat Karya Tunai pedesaan, BLT, Kartu Prakerja dan Kartu Sembako.(dfn/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Truk Muat Pasir Terguling di Balongbendo

Surabaya
Rabu, 5 Agustus 2020
30o
Kurs