Rabu, 21 Oktober 2020

Perjuangkan Ludruk, Seniman Pentaskan Karya Secara Daring

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Pakai APD lengkap, Meimura tampilkan Cancut Taliwondho secara daring. Foto: Totok suarasurabaya.net

Meimura, seniman teater, terus bergerak memperjuangkan keberadaan ludruk, yang terus tergerus di ranah kesenian tradisional secara nasional maupun di kotanya sendiri, Surabaya, meskipun dimainkan secara daring.

Tak mau berhenti berkreativitas dan memperjuangkan keberadaan ludruk yang terus tergerus di ranah kesenian tradisional termasuk di kotanya sendiri, Surabaya, Meimura seniman teater di tengah pandemi Covid-19 memainkan sejumlah lakon meskipun secara daring.

“Seniman konon tidak boleh berhenti berproses, berkreativitas, berkarya. Dan di situasi seperti saat ini, percuma mencaci keadaaan. Justru disinilah keuletan seniman dalam berproses itu ditantang. Dan lahirlah penampilan-penampilan ludruk dalam konteks kekinian dengan saluran virtual. Secara daring,” terang Meimura.

Lewat lakon Ritus Travesty, lebih dari 5 episode telah dimainkan Meimura dibantu beberapa seniman dari Teater Ragil Surabaya, dalam mempersiapkan pementasan ludruk secara daring di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Ritus Travesty adalah sebuah penanda kedukaan Meimura akan semakin tergerusnya kesenian ludruk, di kota kelahirannya sendiri, yang telah menepikan pentas kesenian tradisional itu sendiri. Di Kota Surabaya sendiri, saat ini tak lagi bisa ditemui gedung ludruk yang layak dan bisa dipakai menampilkan lakon-lakon ludruk.

Berkisah tentang sosok Besut dan Rusmini, lakon yang telah ditampilkan jauh di masa sebelum pandemi Covid-19 itu, berkisah tentang semakin hilangnya ludruk dan orang-orang yang punya kepdulian dan perhatian bagi seni tradisi khas Kota Surabaya ini.

“Bahkan satu-satunya gedung pertunjukan ludruk yang ada di THR, Surabaya sekarang ini sudah tidak ada lagi. Lalu di mana ludruk harus dipentaskan? Ini perjuangan yang harus dilakukan, agar ludruk tidak hilang di negerinya sendiri, ludruk tidak hilang di kotanya sendiri,” kata Meimura.

Dan ketika pandemi Covid-19 terjadi, pilihan perjuangan beralih dari mencari pentas-pentas bagi ludruk, menuju media baru yaitu virtual. Beberapa kali Meimura mencoba, dan terus mencoba sampai akhirnya menemukan format baru untuk terus menampilkan ludruk tetapi sekaligus aman dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Lakon Rutus Travesty akhirnya menjadi semacam trade mark perjuangan Meimura untuk ludruk sekaligus mempertahankannya di tengah pandemi Covid-19. Lewat layar virtual Meimura menolak menyerah pada keadaan dan menyampaikan pesan-pesan pada masyarakat secara virtual lewat ludruk gaya Besutan.

“Episodenya memang sudah lebih dari lima. Seluruhnya adalah lakon Ritus Travesty tetapi lewat episode-episode yang berbeda. Tetap mengingatkan masyarakat tentang kondisi saat ini yang masih diselimuti wabah. Karena ludruk juga sejatinya adalah sarana penyampai pesan untuk masyarakat luas,” papar Meimura.

Dan pada episode Cancut Taliwondho, secara khusus Meimura mengingatkan siapapun, diluar sana bahwa wabah Covid-19 ini masih belum selesai. Meskipun penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah tidak diterapkan, tetapi bukan berarti masyarakat bebas beraktivitas. Masih ada protokol kesehatan yang wajib dijalani.

“Bahkan secara khusus, penampilan episode Cancut Taliwondho memang mengingatkan siapapun di luar sana, pandemi ini, wabah Covid-19 ini belum selesai. Ini penting disampaikan, diberitahukan, karena masyarakat harus tetap waspada menjaga diri, menjaga keluarga, dan menjaga lingkungan agar tidak terpapar Covid-19,” tegas Meimura.

Pada penampilannya di episode Cancut Taliwondho, sosok Besut yang biasa tampil mengenakan sarung atau kain putih di tubuhnya, serta kopiah warna putih di kepalanya, kali ini tidak.

Sebuah APD (alat perlindungan diri) atau hazmat warna merah jambu lengkap dengan gogel atau kaca mata dikenakan membuka episode Cancut Taliwondho yang tayang tidak lama setelah, penerapan PSBB ke 3 berakhir di Kota Surabaya.

“Ke depan nanti, sarana pentas daring sepertinya memang pilihan agar tidak membuka peluang penonton berkerumun dan tetap menjalankan protokol kesehatan bagi pementasan-pementasan, seperti teater, ludruk, Ketoprak atau kesenian lainnya. Lakon Ritus Travesty bisa jadi tidak akan berhenti hanya karena pandemi, karena kemajuan tehnologi saat ini, layar-layar daring bisa dijadikan pentas,” pungkas Meimura, Jumat (19/6/2020).

Meskipun belum tahu kapan episode baru Ritus Travesty akan diluncurkan lagi, Meimura menjanjikan akan terus menyempurnakan pentas daringnya dengan bantuan siapapun yang mau melibatkan diri secara sukarela demi ludruk.(tok/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Truk di Tol Ngawi-Solo

Kecelakaan Mobil di Raya Darmo

Mendung Sore Ini

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Surabaya
Rabu, 21 Oktober 2020
30o
Kurs