Senin, 27 Juni 2022

Destinasi Wisata Berbasis Sustainable Tourism di Indonesia

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Taman Nasional Baluran yang berada di Situbondo, Jawa Timur ini juga dikenal sebagai “Little Afrika” di Jawa, karena memiliki suasana savana yang khas. Foto: situbondokab.go.id

Saat ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) tidak lagi fokus mengejar angka kunjungan wisatawan di Indonesia saja, tapi lebih fokus pada usaha mendorong pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism di Indonesia.

Singkatnya, sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan adalah pengembangan konsep berwisata yang dapat dapat memberikan dampak jangka panjang. Baik itu terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan bagi seluruh masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.

Dalam upaya mengembangkan sustainable tourism, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki empat pilar fokus yang dikembangkan. Di antaranya pengelolaan berkelanjutan (bisnis pariwisata), ekonomi berkelanjutan (sosio ekonomi) jangka panjang, keberlanjutan budaya (sustainable culture) yang harus selalu dikembangkan dan dijaga, serta aspek lingkungan (environment sustainability).

Berbekal 4 pilar utama tersebut, tren pariwisata berkelanjutan akan menjadi kegiatan berwisata yang banyak diminati wisatawan. Tidak sekadar berlibur, setiap wisatawan juga tetap memerhatikan protokol berwisata yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, kenyaman, dan kelestarian alam.

Mengutip laman kemenparekraf.go.id, menariknya, sebenarnya konsep sustainable tourism bukanlah hal baru di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya destinasi wisata berbasis sustainable tourism yang masih terus bertahan hingga sekarang.

Berikut 5 destinasi wisata berbasis sustainable tourism di Indonesia lengkap dengan keindahan alam yang disajikan:

Taman Nasional Baluran

Salah satu bentuk ekowisata yang mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Terbukti, karena Taman Nasional Baluran merupakan tempat wisata berwawasan lingkungan yang mengutamakan konservasi alam sebagai pendukung pelestarian satwa dan lingkungan, sekaligus juga kesejahteraan masyarakat setempat.

Menariknya, taman nasional yang berada di Situbondo, Jawa Timur ini juga dikenal sebagai “Little Afrika” di Jawa, karena memiliki suasana savana yang khas. Ditambah lagi, menurut Jurnal Ilmiah Domestic Case Study, yang dikutip dari Katadata menyebutkan, di Taman Nasional Baluran terdapat 444 jenis tumbuhan, 28 jenis mamalia, serta 196 aves, pisces, dan reptil.

Tak hanya kawasan Taman Nasional saja yang menarik dikunjungi, di sekitar Baluran juga terdapat berbagai objek wisata yang tak kalah indah. Seperti Pantai Bilik Sijile, Gunung Baluran, dan Savana Bekol.

Taman Nasional Ujung Kulon

Di Taman Nasional Ujung Kulon ini terdapat habitat asli badak Jawa. Foto: Google Maps/Misda

Tidak hanya dikenal sebagai salah satu Situs Warisan Dunia dan rumah bagi Badak Jawa saja, Taman Nasional Ujung Kulon juga dikenal sebagai destinasi wisata yang mengembangkan sustainable tourism di Indonesia.

Sangat masuk akal, pasalnya di Taman Nasional Ujung Kulon tidak sekadar melestarikan alam dan Badak Jawa yang kian langka saja. Namun, sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Taman Nasional Ujung Kulon. Mulai dari snorkeling dan diving di Pulau Peucang, menikmati kekayaan alam di Kepulauan Handeuleum, atau bermain kano dan canoeing di Pulau Pamanggangan.

Sangeh Monkey Forest

Di Sangeh Monkey Forest ini wisatawan dapat melihat langsung habitat alami dari ratusan monyet berekor panjang. Foto: Google/Andi Kho

Salah satu destinasi wisata berbasis sustainable tourism di Bali. Di sini wisatawan dapat melihat langsung habitat alami dari ratusan monyet berekor panjang, sekaligus mengenal lingkungan alam yang masuk dalam kawasan hutan lindung Bali.

Memiliki luas sekitar 10 hektare dengan udara yang sejuk, di Hutan Sangeh terdapat berbagai jenis flora yang cukup langka. Seperti tanaman amplas, pule, pala, buni, cempaka kuning, dan masih banyak lagi.

Selain menjadi “rumah” bagi ratusan monyet berekor panjang, Sangeh Monkey Forest juga menjadi tempat suci bagi masyarakat Hindu di Bali. Terdapat dua pura di tengah hutan yang disakralkan, yaitu Pura Melanting dan Pura Bukit Sari.

Punti Kayu Palembang

Foto: Google/Toni Surya

Sebagai penyumbang oksigen alami terbesar di Palembang, kawasan Punti Kayu menjadi salah satu destinasi wisata dengan konsep sustainable tourism yang menarik untuk dikunjungi. Di Punti Kayu terdapat deretan pohon pinus dan berbagai flora, seperti mahoni, talog, hingga akasia.

Selain itu, wisatawan juga bisa melihat berbagai macam fauna unik dan langka di Punti Kayu. Seperti kera ekor panjang, beruk, tupai, biawak, musang, hingga berbagai serangga langka yang belum diberi nama.

Bukan hanya itu saja, bagi wisatawan yang berkunjung juga bisa belajar sambil berwisata. Karena wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan satwa, belajar menanam bibit pohon, hingga menikmati berbagai permainan yang menarik di Punti Kayu.

Umbul Ponggok

Di Umbul Ponggok bisa berfoto di dalam air bersanding dengan berbagai jenis ikan. Foto: Google/Eki Sapta

Salah satu contoh destinasi sustainable tourism yang cukup unik dan menarik perhatian wisatawan untuk berlibur ke Klaten, Jawa Tengah. Konsep sustainable tourism yang ada di Umbul Ponggok adalah pengelolaan berkelanjutan atau bisnis pariwisata.

Sejak awal, tempat wisata yang berlokasi di Desa Ponggok ini memiliki potensi sumber air yang melimpah. Hal tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya air yang biasanya hanya digunakan sebagai irigasi sawah menjadi atraksi wisata, berupa latihan menyelam, berswafoto di dalam air, hingga snorkeling.

Masyarakat lokal yang terjun langsung mengelola Umbul Ponggok menjadi kunci sukses destinasi wisata ini. Dengan dukungan penuh masyarakat yang terlibat dalam memanfaatkan potensi alam yang dimilikinya, kini Umbul Ponggok menjadikan salah destinasi wisata dengan penghasilan tinggi, yakni mencapai Rp4 miliar/tahun.

Itulah beberapa destinasi wisata berbasis sustainable tourism di Indonesia yang sayang dilewatkan. Sudah pernah mengunjunginya belum, nih? (ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 27 Juni 2022
31o
Kurs