Selasa, 5 Juli 2022

Hari Teh Sedunia, Pakar: Teh Indonesia Punya Kandungan Antioksidan Lebih Tinggi dari Jepang dan China

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi Teh Hijau. Foto: Pixabay

Minum teh atau lebih akrab disebut “Ngeteh” sudah menjadi tren sejak ribuan tahun lalu di seluruh dunia.

Bahkan, tanggal 21 Mei telah ditetapkan sebagai “Hari Teh Sedunia” untuk menghormati tradisi ngeteh, yang sudah ada sejak 5000 tahun lalu. Saat itu, daun teh jatuh ke dalam cangkir air panas milik Shen Nong Kaisar China, yang tidak sengaja meminumnya dan akhirnya menyukai teh tersebut.

Teh kemudian menyebar ke Jepang, Korea, dan terus menyebar ke seluruh dunia seperti sekarang ini. Bahkan cara minum teh pun semakin unik dan bervariasi.

Namun, Prof. Djoko Agus Purwanto, Peneliti Teh dan Founder Sekaligus Owner Meditea pada Suara Surabaya, Sabtu (21/5/2022) mengatakan, di Indonesia sendiri teh sendiri sebenarnya berasal dari Assam India, dan bukan dari Tiongkok.

“Teh Indonesia ini punya kandungan Epigallocatechin Gallate yang kandungannya lebih tinggi dari teh China atau Jepang. Varietasnya bagus karena ditanam di pegunungan dan cocok dengan alam Indonesia,” paparnya.

Teh-teh tersebut, kata Djoko, dapat ditemui di banyak daerah di Indonesia. Justru teh dari China dan Jepang lebih jarang ditemui. Kandungan Epigallocatechin Gallate pada Teh Indonesia dianggap memiliki antioksidan tertinggi di dunia, mengalahkan kandungaan Vitamin C.

“Sifat antioksidannya lebih baik 100 kali lipat dari Vitamin C dan 25 kali lipat dari Vitamin E,” kata dia.

Meski demikian, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) mengingatkan, jika kandungan kafein yang ada pada teh, lebih tinggi daripada kopi. Namun, terdapat kandungan dalam teh yang bisa menetralkan kandungan kafein tersebut.

“Cuma pada teh itu, ada kandungan seperti teofillin yang melawan aktivitas kafein dalam teh,” tuturnya.

Kandungan Epigallocatechin Gallate tertinggi, lanjut Djoko, terdapat pada daun teh nomor dua dan empat, bukan daun teratas (pucuk). Oleh karena itu, banyak petani teh yang jarang mengambil bagian pucuk daun karena tidak terlalu besar kandungan Epigallocatechin Gallate-nya.

Sementara terkait kebiasaan orang Indonesia yang lebih suka meminum teh hitam, kata Djoko, sebenarnya kurang bagus karena kadar antioksidannya berkurang. Hal ini dikarenakan proses fermentasi yang dilakukan, membuat kandungan Epigallocatechin Gallate banyak berkurang.

“Kalau di Jepang yang sering diminum itu teh hijau yang rasanya sepet itu. Tapi kandungan antioksidannya banyak dan sangat baik buat kesehatan,” jelasnya.

Prof. Djoko di akhir juga berpesan, saat terbaik meminum teh adalah saat perut kosong. Selain itu, jika ingin kasiatnya lebih terasa, teh lebih baik jika diminum tanpa gula.

“Kalau mau pakai gula untuk sekedar jadi pemanis sebenarnya tidak masalah, cuma khasiatnya sedikit berkurang daripada tidak pakai gula. Teh yang paling baik untuk dikonsumsi ya teh hijau,” pungkasnya. (bil/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
28o
Kurs