Senin, 23 Mei 2022

Konseptor Fesyen Jelaskan Alasan Pria Lebih Keren Pakai Masker

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi pria bermasker. Foto: ecofaye.com

Sebuah studi dari Cardiff University, Amerika Serikat menyebut, orang akan terlihat lebih menarik saat memakai masker, khususnya para pria.

Dr. Michael Lewis dari School of Psychology Cardiff mengatakan, dalam penelitian itu perempuan menilai wajah pria dalam empat tampilan, yaitu tanpa masker, saat memakai masker kain, memakai masker medis biru dan memegang buku bersampul hitam yang menutupi area wajah yang biasa ditutupi masker. Hasilnya, para pria dinilai terlihat lebih baik dengan penutup wajah yang menyelubungi bagian bawah wajah mereka.

Baca juga: Sebuah Studi Sebut Pria yang Memakai Masker Terlihat Lebih Menarik

Penelitian itu dibenarkan oleh Embran Nawawi konseptor fesyen asal Surabaya. Menurutnya, dengan memakai masker, maka seseorang akan fokus ke mata sebagai indra untuk berkomunikasi. Sedangkan mata dinilai menjadi bagian wajah yang paling netral dibanding hidung maupun bibir.

“Benar kesimpulan riset itu, karena masker membuat wajah kita lebih netral. Hukum kecantikan itu biasanya ada di sekitar hidung dan bibir. Kalau pakai masker kan hanya kelihatan mata, dan mata itu sifatnya lebih netral,” kata Embran kepada Radio Suara Surabaya, Rabu (19/1/2022).

Dari segi kecantikan, masker juga dapat menutupi kekurangan pada wajah, seperti bentuk rahang atau dagu.

“Kontur wajah orang Indonesia, kebanyakan gigi atas lebih maju, dagu juga ga selonjong orang Eropa atau Amerika. Maka demikian, pakai masker semua lebih netral karena fokusnya akan ke mata,” tambahnya.

Sedangkan mengenai masker berwana biru, lanjut Embran, biru secara psikologis warna memberikan kesan damai dan menenangkan. Selain dari segi kecantikan, memakai masker juga membuat aura seseorang netral, karena tidak banyak ekspresi mulut yang terlihat.

Embran menyontohkan, mimik wajah yang sulit ditutupi dalam berkomunikasi adalah gerak mulut. Jika dalam berkomunikasi, lalu mimik wajah menunjukkan ketidaksepakatan atau sinis, maka bibir otomatis akan menunjukkan itu.

Namun jika memakai masker, mimik bibir tidak terlihat dan seseorang berkomunikasi hanya berfokus pada mata.

“Kalau bicara sama pria, 75 persen biasanya tanpa ekspresi yang serius selain marah atau cemburu. Dengan masker, fokus di mata lebih banyak dan tingkat komunikasinya lebih tinggi,” kata Embran.

Ia menambahkan, “Misal sinis, bibirnya tipis dan itu kelihatan. Sehingga kalau pakai masker dan fokus ke mata, energi negatif seperti marah itu lebih netral. Itu membuat komunikasi lebih baik saat mereka di publik,” kata Embran.

Pria yang juga sebagai fashion designer itu menyarankan masyarakat juga memilih jenis masker yang sesuai dengan bentuk wajah.

Misalnya saja masker model duckbill yang memberikan kesan wajah lebih kecil dari depan, meski monyong ke depan. Menurutnya, masker model duckbill dapat digunakan bagi mereka yang memiliki wajah lebar.

Sebaliknya dengan masker medis. Menurut Embran, model masker medis memberikan kesan wajah lebih lebar, sehingga cocok digunakan bagi mereka yang memiliki wajah kecil. Meski begitu, masyarakat juga harus memperhatikan besar masker medis. Karena jika masker medis terlalu besar, maka akan menutupi sebagian besar bagian wajah.

“Saya sendiri menghindari memakai masker yang tidak terlalu dilebarkan. Karena kalau full dilebarkan, akan menghilangkan wajah kita lumayan banyak.

Sedangkan untuk masker K9, dapat menyederhanakan bentuk wajah, dengan safety pada batas tertentu.

“Masker K9 itu flat di depan, tapi bagian kiri kanan mengecil, itu juga pengaruh ke bentuk wajah. Masker seperti kacamata, harus diukur yang sesuai.

Embran menambahkan, “Masker memang bukan asesoris atau fesyen, tapi produk kebutuhan baru dalam fesyen.”(tin/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
29o
Kurs