Rabu, 6 Juli 2022
Seri Berlayar dengan KRI Makassar 590 (3)

Terbangun Tengah Malam karena Suara Tangisan Perempuan

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Nadaa Ramadhanty kreator konten dan Manda Roosa reporter Suara Surabaya bersama siswa SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur dalam rangkaian Pelayaran Kebangsaan dan Bahari dengan kapal tempur KRI Makassar 590, Sabtu (20/5/2022). Foto: Dimas suarasurabaya.net

Rangkaian acara Pelayaran Kebangsaan dan Bahari pada hari pertama, Jumat (20/5/2022), sudah usai. Saatnya seluruh penumpang kapal tempur KRI Makassar 590 yang berlayar dari Pangkalan Koarmada II ke Pulau Karang Jamuang, beristirahat.

Perlu diketahui, empat kru Suara Surabaya mendapat kehormatan menumpang kapal tempur KRI Makassar 590 selama tiga hari mulai 20-22 Mei 2022 bersama siswa SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur dalam rangkaian Pelayaran Kebangsaan dan Bahari. Keempat orang itu adalah Aprilio Abie, penyiar; Nadaa Ramadhanty, kreator konten; Dimas Wahyu Aditya, editor grafis; dan saya, Manda Roosa, reporter.

Pada pukul 22.00 WIB, semua penumpang sudah tidur lelap setelah menjalani jadwal yang padat seharian penuh. Tiba-tiba pada pukul 23.00 WIB, terdengar jingle akhir program radio dari pengeras suara yang berada di dalam kamar.

Sejam kemudian, tepat tengah malam, kami dikejutkan dengan suara perempuan yang menangis tersedu-sedu. Saya pikir hanya mimpi buruk, tapi suaranya makin keras, kemudian diikuti dengan suara lolongan panjang serigala. Suasana di dalam kamar semakin mencekam karena lampu di dalam kamar dan lorong tiba-tiba padam.

Saya yang sedang tidur pulas, terbangun karena suara menyeramkan itu. Awalnya saya kira sedang mimpi buruk. Ternyata tidak. Suara-suara itu keluar dari pengeras suara di kamar kami.

Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu kamar. Para guru membangunkan para siswa untuk mengikuti kegiatan Mandi Samudera di deck paling bawah.

Saya sempat melihat taruna berkostum pocong berkeliaran di antara siswa. Mungkin untuk menambah kesan seram setelah bunyi-bunyian dan pemadaman lampu tadi.

Ritual Mandi Samudera diawali dengan menyiram air laut ke kepala siswa. “Rasanya asin,” ujar Pelangi, seorang siswa SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur.

Setelah itu, siswa juga harus minum jamu brotowali dicampur terasi.

Pelangi mengatakan kegiatan seperti ini sudah biasa dilakukan di asrama sekolahnya. “Ada waktu-waktu tertentu kami dibangunkan seperti itu, jadi sudah terbiasa,” jelasnya.

Soal jamu brotowali campur terasi itu pun harus habis ditenggak. “Rasanya pahit sekali tapi harus tetap dihabiskan,” kata siswi asal Surabaya ini.

Sementara itu Chandra, pendamping SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur menjelaskan, Mandi Samudera merupakan ucapan selamat datang buat para siswa yang baru pertama kali naik kapal tempur. “Ini merupakan tradisi dari Kapal Tempur KRI,” jelasnya.

Chandra mengatakan jika ini bukan hal baru karena di masa-masa orientasi para siswa sudah dikenalkan dengan tradisi ini. “Bedanya ini di tengah laut,” pungkas Chandra. (man/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
27o
Kurs