Rabu, 6 Juli 2022

Waspadai Sakit Mata Berair Saat Peralihan Musim Kemarau

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi. Penyakit mata. Foto: Pixabay

Pergantian musim hujan menuju musim kemarau atau lebih sering dikenal sebagai pancaroba, seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat orang mudah terserang penyakit. Salah satunya penyakit mata memerah.

Novia warga Sukodono Sidoarjo kepada suarasurabaya.net mengatakan, anaknya yang masih duduk di bangku TK mengalami sakit mata dengan ciri-ciri merah, berair, dan belekan.

“Jadi sakit matanya itu merah berair dan belekan. Ketular temannya di sekolahan TK,” kata Novia.

Bahkan sakit mata yang dialami anaknya ini dengan cepat menular.

“Waktu itu anak saya di rumah utinya. Dan utinya langsung ketularan juga,” ujarnya lagi.

Belum sampai dibawa ke dokter, Novia terlebih dahulu memberikan obat tetes mata kepada anaknya. Setelahnya dalam kurun waktu sekitar 2-3 hari, putrinya sembuh dari penyakit tersebut.

“2-3 hari. Putri saya Alhamdulillah sembuh, utinya juga,” kata Novia.

Tidak hanya itu, tetangga Novia juga mengalami hal serupa.

“Tetangga sebelah rumah saya juga kemarin sakit mata satu rumah. Kata ibunya awalnya ketular dari anaknya dari teman sekolahnya,” ujar Novia lagi.

Menanggapi hal itu, dr. Raden Budi Santoso SpM Spesialis Mata RSUD Pamekasan mengatakan, penyakit mata tersebut lumrah terjadi terutama saat pergantian musim hujam menuju kemarau.

“Pada umumnya disebabkan 80% karena virus. Jenisnya Adenovirus, virus yang mudah menyebar,” kata dr. Budi saat dihubungi suarasurabaya.net.

Biasanya rawan terjadi di kawasan padat penduduk. Namun menurut dr. Budi, penularan itu bisa dicegah dengan meningkatkan personal higiene.

“Daerah padat, di asrama, pondok, daerah padat penduduk yang sanitasinya kurang bisa terjangkit. Cara penularannya bisa diputus dengan sering cuci tangan, tidak menyentuh mata kecuali setelah cuci tangan, personal higiene, mengurangi penggunaan barang pribadi secara bersamaan,” ujar dr. Budi.

Terkait apakah harus menutup mata yang sakit tersebut agar tidak menularkan ke orang lain, menurut dr. Budi tidak perlu.

“Biarkan aja. Karena penularan itu dari mata ke tangan terus ke mata. Jangan pegang mata kalau belum cuci tangan,” katanya lagi.

Sebenarnya, lanjut dr. Budi, sakit mata itu akan sembuh dengan sendirinya paling lama 2 minggu setelah terkena virus asalkan kondisi tubuhnya baik. Namun terkadang, karena ingin cepat sembuh, masyarakat cenderung lari ke apotek dan meneteskan obat tetes mata ke bagian yang sakit tanpa petunjuk dokter.

“Kalau ke apotek cenderung memberi obat-obat yang punya kandungan steroid atau antibitoik yang mengandung steroid. Sebetulnya berbahaya, kalau dipakai berulang akan membuat efek samping glukoma sampai katarak. Jadi obat dengan kandungan steroid harus sesuai pemeriksaan dokter,” ujarnya.

dr. Budi mengimbau masyarakat untuk waspada dengan meningkatkan kebersihan. Karena virus ini bisa mengenai siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa.

“Setiap saat waspada. Baik pergantian musim maupun tidak,” tutupnya. (lta/bil/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
31o
Kurs