Aktif dalam kegiatan kreatif seperti menari, membaca, hingga bermain musik dan video game (gim) berpotensi memperlambat penuaan otak, terutama pada usia lanjut. Hal itu terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan peneliti dari SWPS University, Polandia.
Studi tersebut menemukan bahwa aktivitas kreatif tidak hanya mendukung fungsi otak, tetapi juga berkaitan dengan usia otak yang lebih muda dibandingkan usia kronologis seseorang. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications.
“Seiring populasi menua, semakin banyak orang yang mengalami penurunan kognitif dan demensia. Jika kita dapat mengidentifikasi aktivitas sehari-hari yang membantu otak tetap lebih ‘muda’, kita bisa menunda gangguan memori, perhatian, dan kemandirian,” kata Aneta Brzezicka, psikolog sekaligus Head of Center for Neurocognitive Research SWPS University yang dilansir dari Medical News Today, Jumat (9/1/2026).
Penelitian ini menganalisis data kesehatan dan pencitraan saraf dari lebih dari 1.400 partisipan di 13 negara. Sebagian di antaranya merupakan individu dengan keahlian khusus di bidang tari tango, musik, seni visual, hingga gim strategi.
Menurut Brzezicka, aktivitas kreatif menggabungkan berbagai elemen yang bermanfaat bagi kesehatan otak. Aktivitas tersebut menuntut kemampuan kognitif, melibatkan emosi, sering kali bersifat sosial, serta membutuhkan koordinasi motorik halus.
Untuk mengukur usia otak, peneliti menggunakan model komputasi yang dikenal sebagai brain clock. Model ini memperkirakan usia otak berdasarkan pola aktivitas listrik otak yang direkam melalui Elektroensefalografi (EEG) dan Magnetoensefalografi (MEG).
Jika usia otak yang diprediksi lebih muda dibandingkan usia kronologis, hal tersebut menandakan proses penuaan otak yang lebih lambat. Selisih antara usia otak dan usia sebenarnya disebut sebagai brain age gap.
Hasilnya, partisipan yang aktif dalam kegiatan kreatif memiliki usia otak lebih muda dibandingkan kelompok pembanding. Efek paling kuat terlihat pada individu yang telah mengembangkan keterampilan kreatif selama bertahun-tahun.
“Di semua bidang yang diteliti, para ahli memiliki pola aktivitas otak yang dinilai sekitar empat hingga tujuh tahun lebih muda dibandingkan individu lain dengan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan yang sama,” jelas Brzezicka.
Manfaat serupa juga ditemukan pada partisipan yang mengikuti pelatihan jangka pendek. Dalam studi gim strategi, peserta yang berlatih sekitar 30 jam menunjukkan penurunan usia otak hingga tiga tahun, disertai peningkatan perhatian dan kinerja kognitif.
Peneliti menyimpulkan bahwa otak orang dewasa tetap plastis dan dapat mengalami perubahan terukur dalam waktu relatif singkat.
Penting Bangun Cadangan Kognitif Sejak Dini
Neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, Raphael Wald, menyebut temuan ini menegaskan pentingnya menjaga aktivitas mental melalui beragam kegiatan. Menurutnya, kreativitas mendorong cara berpikir yang lebih abstrak dan fleksibel.
Sementara itu, Megan Glenn, neuropsikolog klinis dari Hackensack Meridian Neuroscience Institute, menilai penelitian ini menyoroti pentingnya membangun cadangan kognitif sejak usia lebih muda. Ia menyebut pengembangan minat kreatif sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan otak.
Para ahli menyarankan masyarakat memilih aktivitas kreatif yang disukai agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan secara profesional untuk memberikan manfaat bagi fungsi kognitif dan kesehatan otak. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
