Vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) tidak hanya penting bagi perempuan. Pemberian vaksin ke laki-laki juga dinilai dapat memperkuat pencegahan kanker serviks dengan membantu memutus rantai penularan virus.
Hal itu disampaikan dr. Ari Baskoro Konsultan Bidang Imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya. Ia mengatakan, selama ini vaksin HPV lebih banyak dikaitkan dengan perempuan karena infeksi kronis virus tersebut merupakan pemicu utama kanker serviks.
Namun, menurutnya laki-laki juga dapat terinfeksi HPV dan berpotensi menularkannya kepada pasangan. Karena itu, vaksinasi pada kedua jenis kelamin dinilai dapat memberikan perlindungan yang lebih optimal.
“Vaksinasi HPV bagi anak perempuan saja, tidak akan mencapai maksimal mencegah kanker serviks. Jika dilakukan juga pada anak laki-laki, diprediksi insidennya akan menurun drastis. Banyak riset yang menjelaskan persoalan tersebut,” tulis Ari dalam analisisnya berjudul “Vaksinasi HPV, Bukan Semata Masalah Gender”, yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (14/8/2026).
Pemerintah saat ini mulai menjalankan pilot project vaksinasi HPV untuk anak laki-laki berusia 11 tahun. Program itu dilaksanakan bersamaan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), diawali di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali. Program itu selanjutnya diproyeksikan diperluas secara nasional mulai 2027.
Sementara untuk vaksinasi HPV nasional, sebelumnya telah diberikan kepada anak perempuan kelas lima dan enam SD atau usia sekitar 11-12 tahun. Vaksin diberikan untuk membentuk perlindungan sebelum seseorang aktif secara seksual dan memiliki risiko terpapar HPV.
Ari menyebut vaksin HPV memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah kanker serviks. Jika diberikan kepada anak atau remaja perempuan berusia 9-14 tahun yang belum aktif secara seksual dan belum pernah terinfeksi HPV, efektivitasnya dapat mencapai sekitar 90 persen.
Namun, perlindungan pada perempuan dapat semakin diperkuat apabila penularan dari laki-laki juga ditekan melalui vaksinasi.
Selain vaksinasi, Ari menilai khitan juga memiliki relevansi dalam menekan penularan HPV. Laki-laki yang telah dikhitan memiliki risiko lebih rendah terpapar virus, karena kulup atau preputium yang rentan mengalami luka mikro telah dihilangkan.
“Khitan memiliki relevansi kuat dengan pencegahan infeksi HPV. Ada bagian yang tak terpisahkan, antara vaksinasi HPV pada kedua jenis kelamin dengan khitan,” tulisnya.
Menurut Ari, kondisi lembap di sekitar kulup dapat menjadi lingkungan yang memungkinkan virus bertahan dan berkembang. Karena itu, khitan dapat membantu menurunkan peluang infeksi sekaligus mempercepat proses pembersihan virus apabila seseorang terpapar.
“Karena itulah laki-laki yang dikhitan (membuang kulup), memiliki risiko yang jauh lebih rendah terpapar HPV. Jika toh terpapar virus, kecepatan mekanisme pembersihannya (clearance), jauh lebih cepat dibanding yang tidak dikhitan,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Ari menekankan, manfaat vaksinasi HPV pada laki-laki bukan semata-mata untuk melindungi perempuan dari kanker serviks. HPV juga dapat menyebabkan masalah kesehatan pada laki-laki, mulai kutil kelamin hingga sejumlah kanker seperti kanker penis, anus, dan tenggorok.
HPV sendiri memiliki sedikitnya 200 tipe. HPV tipe 16 dan 18 dikenal sebagai pemicu utama kanker serviks, sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering menyebabkan kutil kelamin.
Penularannya terutama terjadi melalui aktivitas seksual. Infeksi juga sering berlangsung tanpa gejala sehingga seseorang dapat tidak mengetahui kapan maupun dari siapa dirinya tertular.
Risiko menjadi lebih besar pada seseorang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, termasuk orang dengan HIV/AIDS, karena tubuh lebih sulit membersihkan infeksi HPV yang menetap.
Karena itu, memperluas vaksinasi kepada laki-laki dapat memberikan manfaat ganda: melindungi penerima vaksin sekaligus mengurangi kemungkinan virus ditularkan kepada pasangan.
Ari menjelaskan, vaksin HPV bekerja dengan menggunakan antigen berupa virus-like particle (VLP) untuk merangsang tubuh membentuk kekebalan. VLP menyerupai bagian virus sehingga dapat dikenali sistem imun, tetapi tidak menyebabkan seseorang terinfeksi HPV.
“Setelah substansi kekebalan terbentuk, akan bertindak seperti ‘palang pintu’. Akibatnya HPV tidak mampu memasuki/menyerang sel-sel tubuh,” tulis Ari.
Ia juga menegaskan bahwa kandungan vaksin tersebut tidak menyebabkan infeksi HPV maupun mengganggu kesuburan. Beberapa jenis vaksin HPV memiliki cakupan perlindungan berbeda. Vaksin bivalen melindungi terhadap HPV tipe 16 dan 18, sementara vaksin tetravalen atau kuadrivalen mencakup tipe 6, 11, 16, dan 18.
Dari sisi keamanan, Ari menyebut profil vaksin HPV tergolong baik berdasarkan pemantauan selama puluhan tahun. Efek yang umum terjadi terutama berupa nyeri dan reaksi lokal di tempat suntikan yang biasanya berlangsung singkat.
Menurut Ari, perluasan vaksinasi HPV kepada anak laki-laki pada akhirnya dapat menjadi bagian penting dari strategi pencegahan kanker serviks.
“Selama puluhan tahun pemantauan, profil keamanan vaksin HPV dinilai cukup baik. Tidak terjadi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius,” tulisnya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

