James Gunn secara terbuka mengungkap tantangan terbesar yang ia hadapi dalam menggarap film “Superman” terbaru, proyek yang sekaligus menjadi penentu arah masa depan DC Universe.
Di tengah tanggung jawab gandanya sebagai sutradara dan pimpinan DC Studios bersama Peter Safran, Gunn menyebut film ini sebagai pekerjaan paling berat sepanjang kariernya.
“Ini adalah film tersulit yang pernah saya buat,” terang Gunn ketika menjadi tamu podcastVariety Awards Circuit, menggambarkan kompleksitas menggarap proyek besar di tengah ekspektasi tinggi terhadap masa depan DC.
Saat membicarakan karakter Superman, Gunn bersemangat. Ia menjelaskan ketertarikannya bukan pada skala kekuatan atau mitologi Superman, melainkan pada nilai kemanusiaan yang melekat pada tokoh tersebut.
“Ketika pertama kali berbicara dengan para pemain dan kru, saya ingin membuat sesuatu tentang kebaikan,” ujar Gunn. “Tokoh ini tidak sempurna, meskipun dia Superman. Dia benar-benar hanya berusaha melakukan yang terbaik. Dia berhati baik. Dia penyayang. Dia melihat sisi terbaik dari setiap orang.”
Gunn menegaskan bahwa Superman versinya bukanlah sosok dewa yang tak tersentuh, melainkan figur moral yang tulus, bahkan terkadang canggung. Pendekatan itu, menurutnya, banyak terinspirasi dari komik “All-Star Superman” karya Grant Morrison.
“Itulah yang membuat saya tertarik. Sosok superhero yang besar dan kekar itu ternyata benar-benar baik hati. Itulah yang saya ambil dari buku itu,” kata Gunn.
Berbeda dengan pengalaman kreatifnya di “Guardians of the Galaxy”, proyek Superman membawa beban sejarah hampir satu abad. Gunn menyadari bahwa setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang karakter ini.
“Setiap orang di dunia berpikir berbeda tentang Superman. Semua orang tahu siapa dia,” ujarnya.
Tekanan tersebut tidak hanya melekat pada karakter, tetapi juga pada masa depan DC secara keseluruhan. Gunn menyadari film ini akan dipersepsikan sebagai tolok ukur arah baru DC Universe.
“Semua mata tertuju pada kami — pada DC, pada DCU, pada semuanya. Tekanan itu nyata,” ucapnya.
Dalam konteks itu, proses pemilihan pemeran menjadi krusial. Gunn menegaskan bahwa proyek ini tidak akan berjalan tanpa sosok Superman yang tepat.
“Jika saya tidak bisa menemukan Superman, saya tidak akan membuat film ini,” katanya.
Ia menyebut David Corenswet sebagai salah satu pilihan yang langsung memberinya keyakinan sejak awal audisi. “Saya ingat berpikir, ‘Jika itu adalah yang terburuk yang bisa kita dapatkan, kita berada di posisi yang sangat baik.’”
Hasilnya adalah film Superman yang condong pada optimisme di tengah tren film superhero yang kerap mengusung nuansa gelap. Versi Gunn tidak digambarkan naif, tetapi sarat harapan, sebuah pendekatan yang terasa kontras sekaligus relevan dengan situasi saat ini. (ant/saf/faz)






