Karena dia merasa tidak berdaya saat menjadi korban, lanjut Vitria, anak tersebut melampiaskan dorongan kontrolnya ketika berada di lingkungan baru atau di tempat dia merasa lebih dominan.
“Kadang saat di rumah, anak dikenal baik, pendiam, penurut. Padahal orang tua tidak tahu atau menyadari bahwa sang anak memendam tekanan emosional akibat menjadi korban perundungan atau tekanan lingkungan di tempat lain,” ungkapnya.
Selain itu, menurut Vitria, paparan media seperti film dan game berunsur kekerasan juga memberi andil besar dalam membentuk cara berpikir anak.
“Jangan lupa, bahwa anak-anak yang belum matang secara emosional sering kali kesulitan membedakan mana realitas dan simulasi game. Sehingga kadang mereka nggak sadar, kalau ada perbedaan antara realita dan permainan,” tambahnya.
Jika dibandingkan dengan fenomena di masa lalu yang umumnya terbatas pada candaan ringan antar teman, perundungan era modern telah bergeser ke tingkat yang lebih ekstrem.








