Diabetes yang tidak tertangani dengan baik bisa memicu infeksi bakteri yang menyerang buah zakar. Hal itu disampaikan dr. Yufi Aulia Azmi, dokter spesialis urologi alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang dalam penelitiannya menyebut bahwa penyakit itu termasuk fournier’s gangrene.
Fournier gangrene sendiri adalah infeksi bakteri langka dan agresif pada jaringan lunak di area genital, perineum, atau perianal, yang menyebabkan kematian jaringan (nekrosis) secara cepat.
Dokter Yufi menjelaskan, tanda pasien yang mengalami gangguan ini, buah zakarnya akan membengkak disertai kulit bagian itu menghitam. Gejala lainnya, biasanya disertai demam dan menimbulkan bau tidak sedap.
Kasus yang banyak terjadi, pasien salah diagnosa di fasilitas kesehatan tingkat pertama, lalu baru dirujuk ke rumah sakit saat kondisinya sudah tidak bisa ditangani.
“Pasien banyak dirujuk ke rumah sakit karena sudah tidak bisa ditangani. Biasanya fakses pertama salah diagnosa sehingga menyebabkan abses pada buah zakar. Kadang pasien memberi terapi oles-oles sehingga bertambah parah kondisinya,” tuturnya.
Adapun pasien penderita Fournier’s Gangrene itu biasanya memiliki riwayat penyakit diabetes yang tidak tertangani dengan baik. “Sehingga muncul komplikasi akibat infeksi di buah zakar. Sehingga mudah terserang bakteri,” katanya lagi.
Sementara pemicu infeksi ini, menurut dr. Yufi, bisa juga karena penggunaan obat diabetes. “Bisa juga karena kurang menjaga kebersihan di sekitar kelamin,” ungkapnya.
Karenanya, ia mendorong pentingnya faskes tingkat pertama menegakkan diagnosa dengan baik demi menghindari salah penanganan.
“Kita harus bisa menegakkan diagnosa dengan baik agar tidak salah penanganan. Terutama di faskes tingkat pertama,” ungkapnya.
Untuk diketahui, kasus-kasus itu merupakan hasil disertasinya tentang fournier’s gangrene. Penelitian dilakukan terhadap sampel 185 pasien selama 12 tahun sejak 2012 hingga 2024.
Sehingga Dokter Yufi yang merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, meraih gelar doktor (PhD) dari Department of Health Sciences, University of Groningen, melalui University Medical Center Groningen, Belanda.
“Saya lakukan studi kasus ini mulai dari diagnosa, tata laksana, perawatan operasi hingga biaya yang dibutuhkan,” tandasnya. (lta/bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
