Menjelang Ramadan, banyak orang tua menantikan saat anak mulai diperkenalkan dengan ibadah puasa. Namun, proses ini perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak agar menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak menimbulkan tekanan.
Mariska Johana Psikolog klinis anak dan remaja Universitas Padjajaran (Unpad) mengatakan, puasa sebaiknya dipahami sebagai proses tumbuh kembang anak, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan beribadah.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska, Sabtu (24/1/2026) yang dikuti Antara.
Lebih lanjut, berikut tips dari Mariska untuk orang tua mengenalkan puasa kepada anak:
Pemahaman puasa sesuai tahap usia
Pada usia pra-sekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional. Puasa dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh.
Anak diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi, serta belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.
Nilai spiritual diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa usaha belajar berpuasa adalah perbuatan baik yang disukai Allah. Fokus utamanya adalah membangun pengalaman puasa yang aman, hangat, dan positif.
Memasuki usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat. Puasa dapat dipahami sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.
“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.
Pada tahap ini, nilai spiritual dikaitkan dengan perilaku konkret, seperti bersabar, membantu orang lain, dan berbagi. Anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh karena membantu mengatur pola makan dan kebiasaan.
Usia sekolah akhir hingga remaja awal, sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, memungkinkan anak berpikir lebih reflektif. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.
Anak bisa diajak melihat puasa sebagai latihan lengkap, seperti belajar menahan lapar, mengatur perasaan, menjaga pikiran, dan dekat dengan Tuhan. Puasa juga membantu tubuh tetap sehat dan membiasakan kebiasaan baik, sehingga anak belajar merawat dirinya dengan cara menyenangkan.
Cara orang tua mendampingi anak
Mariska juga menyarankan beberapa strategi konkret untuk membantu anak memahami puasa secara utuh. Orang tua dapat mengajak anak menonton video atau film edukatif tentang Ramadan yang sesuai usia, baik menampilkan kisah anak berpuasa, nilai spiritual, maupun manfaat kesehatan secara sederhana.
Setelah itu, orang tua berdiskusi dengan anak melalui pertanyaan terbuka, seperti apa yang dipahami, bagian mana yang menarik, dan bagaimana hal itu bisa diterapkan dalam keseharian.
Selain itu, anak dapat diajak mengikuti kegiatan keagamaan yang ramah anak, seperti dongeng Islami, kajian anak di masjid, atau kajian keluarga dengan durasi terbatas. Orang tua tetap mendampingi dan membantu menerjemahkan pesan utama agar tidak terasa berat.
Orang tua juga dapat membantu anak mengalihkan fokus dari rasa lapar dengan memperbanyak aktivitas bermakna.
Salat bersama, berbuat kebaikan, membantu orang lain, atau menyisihkan uang dari puasa untuk sedekah dapat menjadi alternatif yang mengajarkan anak bahwa puasa bukan hanya menahan diri, tetapi juga mengisi waktu dengan nilai, ibadah, dan kebiasaan yang menyehatkan.
Reward sebagai strategi perkembangan
Penggunaan sistem hadiah atau reward masih sering dipilih orang tua untuk memotivasi anak berpuasa. Menurut Mariska, reward harus dipahami sebagai strategi perkembangan.
Pada usia tertentu, reward masih dibutuhkan sebagai penguat eksternal, namun seiring bertambahnya usia, fokus penguatan perlu bergeser ke motivasi intrinsik, pemahaman nilai spiritual, dan kesadaran diri.
Untuk anak prasekolah, reward konkret masih relevan karena anak berpikir konkret dan belum mampu memaknai tujuan puasa secara abstrak. Hadiah bisa berupa stiker, chart, atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga. Yang penting, reward diberikan atas usaha dan perilaku positif yang menyertai puasa, seperti mau mencoba menahan lapar, mau sahur, atau mampu mengalihkan perhatian saat tidak nyaman.
Reward ini selalu disertai penjelasan sederhana tentang makna puasa, misalnya usaha anak disukai Allah dan baik untuk tubuhnya yang sedang belajar teratur.
Pada usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, reward masih dapat digunakan, tetapi mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional.
Apresiasi diberikan atas perilaku yang lebih luas, seperti mampu bersikap sabar, mau beribadah, memilih makanan sehat saat berbuka, atau menyisihkan uang untuk sedekah.
Reward difokuskan sebagai apresiasi orang tua, sementara nilai spiritual dan pemahaman bahwa puasa membawa kebaikan bagi diri dan orang lain lebih ditekankan.
Memasuki usia sekolah akhir hingga remaja awal, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan. Penguatan lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri. Anak diajak menyadari bahwa puasa melatih pengendalian diri, memperkuat hubungan spiritual, dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Reward, jika digunakan, sifatnya simbolik dan berbasis pengalaman, bukan materi.
“Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” kata Mariska.
Di semua tahap, orang tua disarankan menerapkan proses fading, yaitu pengurangan reward secara bertahap. Tujuannya agar anak beralih dari motivasi berbasis hadiah ke motivasi intrinsik, sehingga anak mampu merasakan kepuasan batin, makna spiritual, dan manfaat kesehatan dari puasa itu sendiri.
“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, tetapi menjadi jembatan awal yang membantu anak belajar, tumbuh, dan memaknai puasa sesuai tahap perkembangannya,” kata Mariska.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi pengalaman yang aman, hangat, dan mendidik. Anak tidak sekadar belajar menahan lapar, tetapi memahami nilai, ibadah, dan kebiasaan yang menyehatkan tubuh dan jiwa.(ant/ily/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
