Kemarau basah yang menerjang sebagian besar wilayah Indonesia menjadikan kualitas tebu petani terus menurun. Rendemen atau kadar gula dalam batang tebu diperkirakan juga akan ikut berdampak.
“Rendemen gula saat ini turun dikisaran 5-6 persen dari rata-rata 7 atau 8 persen,” kata Soemitro Samadikoen, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Kamis (15/9/2016).
Dengan penurunan rendemen, produksi gula secara nasional diperkirakan juga akan turun. Sebelumnya produksi gula dalam negeri mencapai 2,5 juta ton. Namun akibat rendemen gula yang rendah dan turun dari biasanya, maka produksi gula diperkirakan sampai akhir tahun hanya mencapai 2,3 juta ton.
Rendahnya rendemen juga menjadikan biaya produksi gula akan jauh lebih tinggi. “Bila pemerintah serius ingin meningkatkan produksi gula, maka PG (Pabrik Gula) milik BUMN harus segera direvitalisasi dengan menggunakan mesin yang baru,” kata dia.
Jika PG sudah efisien dan mampu menangkap rendemen hingga 10 persen, maka biaya produksi gula juga akan turun yang ujungnya bisa meningkatkan kesejahteraan petani serta bisa memangkas harga gula di pasaran.
Sementara itu, Agus Pakpahan, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI), mengatakan realisasi giling tebu per 31 Agustus 2016 mengalami penurunan. Di sejumlah PG, rendemen gula turun sebesar 2 persen. Akibatnya, produksi gula hingga tutup tahun ini diperkirakan maksimal 2,3 juta ton.
“Salah satu solusi menghadapi kondisi ini, kita memerlukan varietas tebu yang tahan terhadap segala cuaca,” kata dia. Berdasarkan catatan AGI, pada musim giling saat ini, rendemen tebu terendah di PG Gondang Baru yaitu 4,92 persen, sedangkan rendemen tertinggi di PG Asem Bagoes, yaitu 7,56 persen.
Agus mendesak pemerintah melakukan evaluasi terhadap kondisi pertanian tebu di tingkat petani dan kondisi PG di sejumlah PTPN milik negara. (fik/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

