Sabtu, 17 Oktober 2026
Permasalahan Tanah

Tetap Jadi Problem Utama Pengembang

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Permasalahan tanah sampai saat ini tetap menjadi problem pengembang. Tanah yang sudah dibeli diakui belum dibayar. Bahkan tanah yang sudah bersertifikat masih dituntut sebagai pembelian yang tidak sah.

Hal tersebut disampaikan Ir RICHARD ADISASTRA Presiden Direktur Pakuwon Group terkait prospektif properti di 2008, di sela Pakuwon Gala Exhibition, Rabu (28/11),

Pada suarasurabaya.net, RICHARD mengatakan, dengan beragam permasalahan tanah tersebut sangat merepotkan pengembang. Pengembang terpaksa berulang kali membuktikan bahwa tanahnya memang sudah sah dibeli.

Permasalahan tanah sangat dominan bagi pengembang apalagi harganya terus melambung naik. Harga tanah menjadi suatu kendala karena pada saat membeli dan sudah diakui, dengan sekarang ini harganya sangat berbeda.

RICHARD mencontohkan ketika Pakuwon Group membeli tanah di tahun 1985. Jelas dibandingkan dulu dan sekarang, harganya jauh berbeda setelah daerah dikembangkan.

Pemilik tanah, umumnya menilai pengembang untungmya banyak tapi lupa dengan bunganya yang cukup banyak. Sama dengan tingginya nilai investasi.

“Misalnya, kalau kita membangun area residential, dari 100% tanah yang dibeli, cuma 60% dipakai. Dari 60% dikurangi yang tidak laku atau 50%. Jadi artinya 1 banding 2. Kalau beli harganya Rp 100 ribu berarti nilainya bisa Rp 200 ribu. Belum lagi biaya pengembangan sekian lama yang terus naik, memakai uang dari bank. Sebenarnya kalau dihitung cost, pengembang tidak ada untungnya. Apalagi kalau produknya tidak laku, pengembang bisa mati,”paparnya.

Menyikapi kondisi properti di 2008, RICHARD menilai, kenaikan harga minyak yang memberikan efek domina jelas mempengaruhi harga jual properti. Tapi pengembang tidak bisa terlalu banyak menaikkan harga jualnya, maksimal di kisaran 5%-7,5%.

Kalau pengembang nekad menaikkan harga jual lebih dari itu, marketnya terlalu sulit. Pengembang mau tidak mau harus mengurangi margin atau lebih hati-hati dalam hal penjualan.

Kondisi ini, menurut RICHARD, sudah pernah terjadi pada 2004 ke 2005. Tapi selama tidak terjadi distorsi besar di 2008, bisnis properti tetap akan berjalan mulus. Berikut penjelasan RICHARD, {clip*1}.

Bisnis properti yang menonjol di 2008 adalah properti komersial berdasarkan indikator Jakarta dan Surabaya sampai 35%. Residensial juga akan terus berjalan.

Pakuwon Group sendiri di akhir 2007 ini menggenjot penjualan properti hingga 30% melalui Pakuwon Gala Exhibition dengan fokus ke klaster Andalusia. (tin)

Teks foto :
– Pengembang agresif berpameran di akhir tahun untuk menggenjot penjualan unit properti
Foto : TITIN suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Sabtu, 17 Oktober 2026
35o
Kurs