Sabtu, 17 Oktober 2026
Industri Jatim <I>Mandheg</I>

Industriawan Memilih Sektor Perdagangan

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Dominasi sektor perdagangan dalam PDRB Jawa Timur indikator industri kita tidak berkembang. Bahkan ada kecenderungan industriawan memilih masuk ke sektor perdagangan karena lebih menguntungkan. Hal tersebut disampaikan INDRA NUR FAUZI Direktur REDI (Regional Economic Development Institute) Jawa Timur.

Pada suarasurabaya.net, Senin (20/08), INDRA mengatakan, sektor perdagangan lebih menguntungkan berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, industriawan tidak dihadapkan pada proses produksi yang rumit, kedua margin di sektor perdagangan itu lebih tinggi dan perputarannya lebih cepat.

“Ketiga. return of investment lebih cepat dibandingkan investasi di sektor industri. Ada keterkaitan yang mendasar antara pertumbuhan sektor perdagangan dengan pertumbuhan impor. Kalau sektor perdagangan tumbuh pesat, seharusnya diimbangi dengan sektor industri yang sangat luar biasa,”paparnya.

INDRA menjelaskan kenyataan yang ada saat ini bisa dilihat di hipermarket-hipermarket. Hampir seluruhnya merupakan produk impor, mulai makanan, barang elektronik, garmen hingga produk kulit.

Kondisi ini hasilnya akan berbeda jika dominasinya adalah produk dalam negeri. Ini, kata INDRA, akan menjadi nilai tambah dari kegiatan bisnis yang ada di Jawa Timur.

INDRA mengansumsikan jika produk impor diperdagangkan di dalam negeri senilai Rp 1 milyar, paling banyak pekerjanya 10 orang. Akan berbeda jika investasi Rp 1 milyar berupa produk dalam negeri, paling tidak ada 100 orang yang akan meningkat penghasilannya dari nilai tambah kegiatan bisnis.

“Industri kita saat ini masih bisa kokoh tapi nilai tambah bagi masyarakat relatif lebih kecil. Dominasi sektor perdagangan dengan produk impor membuat sedikit masyarakat yang menikmati hasilnya,”ujarnya.

Berdasarkan data BPS Jawa Timur tentang nilai PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2007 tercatat Rp 128,9 trilyun. Tren meningkat dibanding periode yang sama 2005 dan 2006 masing-masing Rp 97,14 trilyun dan Rp 114,73 trilyun. Sementara atas dasar harga konstan 2000, PDRB triwulan II Rp 71,43 trilyun. Angkanya juga cenderung meningkat dibanding 2005 (Rp 63,58 trilyun) dan 2006 (Rp 67,38 trilyun).

Dari sisi kontribusi atas dasar harga berlaku, sejak 2006, sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang terbesar. Tergusurnya sektor industri pengolahan sebagai yang terbesar dalam menyumbang nilai PDRB disebabkan kinerja yang melemah setelah mendapat dua guncangan yakni kenaikan harga BBM akhir 2005 dan lumpur Lapindo Mei 2006.

Sebelumnya, pada 2005 sektor industri pengolahan kontribusinya 29,51% (Rp 28,67 trilyun) terhadap PDRB Jatim. Kini sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberi kontribusi Rp 38,75 trilyun atau 30,06% terhadap perekonomian Jatim. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Sabtu, 17 Oktober 2026
35o
Kurs