Penolakan China pada ekspor ikan Indonesia mempengaruhi neraca perdagangan Jawa Timur.
Ir CIPTO BUDIONO Kepala Disperindag Jawa Timur mengatakan pada MARTHA reporter Suara Suarabaya, Selasa (14/08), meski jumahnya kecil, tapi larangan yang diberlakukan China ini tetap berpengaruh pada kinerja ekspor Jatim ke China, {clip*1}.
Sejak tahun 2004-2006 neraca perdagangan Jatim dengan China masih defisit. Tahun 2004, neraca perdagangan defisit sebesar US$ 377 juta. Tahun 2005, defisit mencapai US$ 485 juta. Dan tahun 2006, defisit sebesar US$ 377. Sementara di tahun 2007 hingga bulan Juli lalu, telah terhitung defisit sebesar US$ 295 juta.
Khusus untuk perikanan, ekspor udang masih mendominasi. Ekspor udang dari Jatim ke China, di tahun 2006 tercatat senilai US$ 362 juta, dengan pertumbuhan ekspor sekitar 13,3%.
Untuk kepiting dan kerang, ekspor sebesar US$ 57 juta dengan pertumbuhan 21,5%. Namun demikian, share hanya 1 %. Ikan air tawar turun 28% dengan nilai US$ 42,8 juta dan ikan tongkol naik US$ 14,2 juta.
Pemerintah Indonesia dan China akan segera bertemu untuk membicarakan hasil transparansi hasil pengujian ikan. Kata CIPTO, harus ada harmonisasi standar yang ternotifikasi antara Pemerintah Indonesia – China dalam penentuan standar ikan yang boleh diekspor. (yyn/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

