Saat melakukan perjalanan jauh menggunakan maskapai penerbangan asing, makanan merupakan teman setia yang selalu menemani penumpang. Mulai makanan ringan, makanan utama hingga penutup menjadi pengalaman unik bagi penumpang.
Penumpang akan merasakan jenis rasa tertentu dan bisa membedakan antara makanan yang disajikan maskapai penerbangan satu dengan lainnya. Namun bagi umat muslim, terkadang muncul keragu-raguan apakah makanan yang dimakan halal atau tidak dan bagaimana pengolahannya, apakah mulai peralatan hingga proses akhirnya sesuai standar halal ?
Sebagai perusahaan dengan kinerja yang baik, Cathay Pacific Airways sejak awal membangun bisnis katering tahun 1967, mencoba menjawab masalah tersebut. Apalagi dengan customer yang dilayani sebagian besar membawa penumpang dari dan ke negara-negara muslim. Bahkan bagi orang yang menjalani diet tertentu dan tidak boleh mengkomsumsi bahan-bahan tertentu bisa dilayani oleh Cathay Pacific Catering Services Hong Kong Ltd.
Menurut STEVEN CHONG Marketing & Customer Services Officer CPCS pada suarasurabaya.net saat mengikuti Indonesia Media Famtrip ke Hong Kong, layanan yang diberikan merupakan komitmen perusahaan. Makanan yang disajikan bagi penumpang Cathay Pacific Airways dan 37 maskapai penerbangan lainnya yang menjadi customer CPCS, selain berkualitas tinggi, juga memenuhi kebutuhan penumpang.
Jadi, kata STEVEN, penumpang tidak perlu kuatir apakah makanan yang tersaji halal atau tidak. Misalnya, Cathay Pacific rute Hong Kong Surabaya, atau rute ke negara Timur Tengah, tentu makanan yang disajikan halal.
Menu makanan mulai menu Asia hingga barat, juga melewati kontrol yang ketat. Setiap 3 bulan sekali ganti menu baru, yang sebelumnya dilakukan tes terlebih dahulu. Berikut penjelasan STEVEN, .
Kontrol yang ketat tersebut didukung dengan sertifikat yang dimiliki CPCS seperti ISO14001 untuk Enviroment Managemet System, ISO 9001:2000 untuk Quality Management System dan HACCP (Hazard Analisys & Critical Control Point.
Seluruh proses produksi pengolahan makanan berada di lantai 2 seluas 11.700 m2. Di sini makanan panas, dingin, masakan Jepang, halal, kosher sampai makanan pesanan khusus untuk orang-orang yang berdiet terhadap bahan-bahan makanan tertentu diolah dan dikemas. Di lantai ini pula, ruangan dibuat terpisah untuk pengolahan daging, seafood, buah-buahan dan sayuran.
Termasuk ruangan untuk pembuatan roti yang dilengkapi 76 walk in centrally monitor cold room. Dari ruang produksi dihasilkan 74.465 makanan per hari.
Sedangkan juru masak, kata STEVEN, cukup beragam dan rata-rata memiliki pengalaman di bidangnya. Juru masak didatangkan dari Australia, Jerman, India, Malaysia, Jepang, Pilipina, Singapura, Thailand dan Afrika Selatan. Total jumlah karyawan 1585 orang di CPCS Hong Kong, bekerja dalam 3 shift, per shift 8 jam.
STEVEN mengatakan seluruh peralatan yang diperlukan dalam proses produksi bersifat otomatis dan terintegrasi dalam warehouse management system. Untuk peralatan tersebut, CPCS berinvestasi sebesar HK$ 233 juta.
Melihat jumlah penerbangan yang dilayani cukup tinggi yakni 170 penerbangan per hari sejak 27 Januari 2006, CPCS menyediakan armada yakni 5 cargo truck, 40 ramp vehicle, 16 inbound docks, 28 outbound docks, 19 ware washers, dan 73 Hi-Loaders. Seluruh armada ini berada di lantai bawah gedung CPCS.
Selain di Hong Kong, CPCS juga memiliki 5 Flight Kitchens yakni Taipe, Cebu, Ho Chi Minh, Toronto dan Vancouver. Di bisnis ini, CPCS memiliki market share 50% untuk pasar katering maskapai penerbangan yang ada dan market share 70% untuk pasar suplai makanan. CPCS di Hong Kong yang dibangun dengan biaya HK$ 1,6 milyar lokasinya hanya 5 menit dari Cathay Pacific City.
Teks foto :
1. Pengolahan makanan di ruang produksi lantai 2 CPCS
2. Penyajian makanan tergantung penumpang kelas apa dan dari maskapai penerbangan yang mana, akan berbeda satu dengan lainnya
3. Menu penutup juga harus tetap fresh saat dikonsumsi penumpang
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

