Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) optimistis kesepakatan antara AS dengan Iran dapat tercapai dalam waktu satu bulan ke depan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi serius bagi Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih, mengenai tenggat waktu untuk merampungkan kesepakatan baru terkait program nuklir Iran.
“Saya kira dalam satu bulan ke depan, kira-kira seperti itu, sesuatu harus terjadi dengan cepat,” kata Donald Trump seperti dikutip Anadolu, Jumat (13/2/2026).
Ia menegaskan bahwa kesepakatan harus dicapai untuk menghindari situasi yang disebutnya akan sangat traumatis.
“Kita harus membuat kesepakatan, kalau tidak itu akan sangat traumatis, sangat traumatis. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi kita harus membuat kesepakatan. Mereka seharusnya membuat kesepakatan sejak awal. Mereka justru mendapatkan Midnight Hammer, dan ini akan sangat traumatis bagi Iran jika mereka tidak membuat kesepakatan,” ujarnya, merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel. Dalam pertemuan tersebut, isu Iran turut dibahas.
“Kami mengadakan pertemuan yang sangat baik kemarin dengan Bibi Netanyahu, dan dia mengerti, tetapi pada akhirnya keputusan ada di tangan saya. Jika kesepakatannya bukan kesepakatan yang sangat adil dan sangat baik dengan Iran, maka saya pikir ini akan menjadi masa yang sangat sulit bagi mereka,” kata Trump.
Usai pertemuan, Trump menegaskan belum ada keputusan final selain dorongan agar negosiasi tetap berlanjut.
“Tidak ada yang benar-benar definitif dicapai selain saya bersikeras agar negosiasi dengan Iran terus berlanjut untuk melihat apakah kesepakatan dapat diwujudkan,” ujarnya.
Saat ditanya apakah Netanyahu ingin AS menghentikan perundingan, Trump menjawab singkat, “Kami tidak membahas itu. Saya akan berbicara dengan mereka selama saya mau, dan kita lihat apakah kita bisa mendapatkan kesepakatan.
Sebagai informasi, AS dan Iran kembali menggelar perundingan di Oman pada, Jumat pekan lalu. Ini menjadi pertemuan pertama sejak serangan militer pada Juni dan menandai berakhirnya jeda negosiasi selama sekitar delapan bulan. Putaran lanjutan direncanakan, meski jadwal pastinya belum ditentukan.
Di tengah proses diplomasi, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington telah mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dari Laut China Selatan ke wilayah yang lebih dekat dengan Timur Tengah sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran.
Pemerintah Iran menuding AS dan Israel kerap mencari dalih untuk intervensi militer dan perubahan rezim. Teheran sendiri memperingatkan akan merespons setiap serangan militer, meskipun berskala terbatas.
Iran juga menegaskan bahwa pencabutan sanksi ekonomi Barat menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan pembatasan program nuklirnya. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
