Jumat, 13 Februari 2026

Risiko Kanker Paru Naik Setelah Usia 40 Tahun dan Sering Tanpa Gejala

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
dr. Prayudi Tetanto, Dokter spesialis paru Adi Husada Cancer Center (AHCC) dalamn peringatan World Cancer Day 2026 di Surabaya, pada Jumat (13/2/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kanker, khususnya kanker paru, membuat banyak pasien baru datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.

Fakta itu menjadi sorotan dalam peringatan World Cancer Day 2026 yang digelar Adi Husada Cancer Center (AHCC) di Surabaya, sebagai upaya memperkuat edukasi dan kewaspadaan publik.

Dokter (dr.) Prayudi Tetanto, dokter spesialis paru AHCC mengatakan bahwa kanker paru kerap berkembang tanpa gejala awal. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium tiga atau empat.

“Padahal kalau bisa dideteksi lebih awal melalui screening, harapannya bisa ditemukan pada stadium lebih dini sehingga pengobatannya lebih mudah dan peluang sembuhnya lebih besar,” katanya di Surabaya dalam peringatan World Cancer Day 2026 di Surabaya, Jumat (13/2/2026).

Menurut dr. Prayudi, mayoritas pasien kanker paru yang datang ke rumah sakit berusia di atas 50 tahun. Namun, risikonya sudah mulai meningkat sejak usia 40 tahun.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan meski belum muncul keluhan, karena screening bukan hanya dilakukan saat sakit, melainkan saat seseorang masih merasa sehat.

Ia mengatakan bahwa kanker tidak hanya menyerang perokok berat, tetapi juga berpotensi terhadap mereka yang terpapar asap rokok. Dalam hal ini ia menekankan pentingnya perhatian kepada perempuan.

“Faktanya, perempuan juga berisiko tinggi akibat paparan asap rokok di lingkungan sekitar, polusi udara, hingga asap dari aktivitas di dapur,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala ringan seperti batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu.

Dalam aspek pencegahan, dr. Prayudi menjelaskan adanya faktor risiko yang dapat dihindari dan tidak dapat dihindari. Faktor yang tidak bisa diubah, yanni genetik dan usia.

Sementara faktor yang bisa dicegah antara lain paparan polusi udara, kebiasaan merokok, asap pembakaran sampah, lingkungan industri, paparan zat iritan, paparan abses melalui serbuknya, hingga riwayat penyakit paru kronis seperti TBC berat atau infeksi paru serius.

“Pesannya sederhana, jalani gaya hidup sehat, hindari faktor risiko yang bisa kita hindari, jangan anggap remeh screening, dan jika ada keluhan segera periksa. Yang penting juga dipahami, kanker paru bukan vonis mati. Saat ini banyak modalitas pengobatan modern yang bisa digunakan untuk melawan kanker,” ucapnya.

Pesan tersebut sejalan dengan kampanye global World Cancer Day 2026 bertema “United by Unique”, yang menekankan bahwa setiap perjalanan pasien bersifat unik dan membutuhkan pendekatan perawatan yang personal. Deteksi dini dan people-centred care menjadi kunci keberhasilan pengobatan di era medis modern.

Sementara itu, dr. Silvia Haniwijaya Tjokro General Manager AHCC menekankan pentingnya empati dalam layanan kesehatan.

“Kami memahami bahwa di balik setiap diagnosis medis ada manusia dengan cerita dan perjuangan yang unik. Kami ingin memastikan akses kesehatan yang adil dan perawatan yang hangat bagi setiap individu,” katanya.

Melalui upaya itu, AHCC berharap pesan bahwa kanker dapat dicegah, dideteksi lebih awal, dan ditangani secara manusiawi dapat semakin menguat di tengah masyarakat.

Pada peringatan World Cancer Day 2026 oleh AHCC yang mengusung tema “We Cancervive: Empowering You”, itu, menekankan semangat kolektif tenaga medis dan masyarakat dalam menghadapi kanker, mengubah narasi kanker dari sumber ketakutan menjadi simbol kekuatan dan harapan.

Pada peringatan tersebut juga diadakan senam bersama, seiring dengan dengan data global yang menunjukkan bahwa sekitar 38 persen kasus kanker baru dapat dicegah melalui modifikasi gaya hidup sehat.

Dalam rangka memperluas akses dan kualitas layanan, AHCC juga menggandeng Picaso Hospital dari Kuala Lumpur. Kolaborasi internasional itu untuk mendampingi masyarakat melalui upaya preventif, dukungan kolektif, serta akses layanan medis lintas negara.(ris/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 13 Februari 2026
27o
Kurs