Sebuah fakta mengejutkan terkait Epstein kembali muncul dari dokumen terbaru yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ).
Dokumen tersebut mengungkap percakapan rahasia antara Steve Bannon, mantan penasihat utama Gedung Putih periode pertama Donald Trump menjabat Presiden AS, dengan Jeffrey Epstein terpidana pedofilia, terkait rencana politik untuk menjatuhkan mendiang Paus Fransiskus, mantan pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Melansir laporan The Independent, Minggu (15/2/2026), pesan yang dikirim pada Juni 2019 tersebut menunjukkan ambisi Bannon untuk menyingkirkan pengaruh tokoh-tokoh global yang dianggapnya sebagai penghalang agenda kedaulatan nasionalnya.
Dalam salah satu pertukaran pesan, Bannon secara eksplisit menuliskan rencananya kepada sang pendana tersebut. “Akan menjatuhkan (Paus) Fransiskus,” tulis Bannon kepada Epstein.

Ia juga menyebutkan nama-nama lain seperti keluarga Clinton, Xi Jinping Presiden China, hingga Uni Eropa sebagai target strategisnya. “Ayo kawanku,” lanjut Bannon dalam pesan kepada Esptein tersebut.
Untuk diketahui, Steve Bannon, yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Katolik Roma, dikenal sebagai kritikus keras Paus Fransiskus.
Ia memandang agenda global progresif sang Paus bertentangan dengan sikap “sovereigntis” atau kedaulatan yang ia usung. Dalam wawancara tahun 2018 dengan The Spectator, Bannon bahkan menyebut Paus Fransiskus “berpihak pada elit globalis.”
Kolaborasi Film “In the Closet of the Vatican”
Dokumen DOJ juga menunjukkan bahwa Bannon mencoba memanfaatkan isu internal Vatikan untuk mempercepat rencananya. Bannon bertanya kepada Epstein apakah ia sudah membaca buku “In the Closet of the Vatican” (2019) karya Frédéric Martel jurnalis Prancis, yang mengklaim bahwa sebagian besar pendeta di Vatikan adalah gay.
Bannon bahkan menawarkan posisi eksekutif produser kepada Epstein untuk mengadaptasi buku tersebut menjadi film. “Anda sekarang adalah produser eksekutif untuk ‘ITCOTV’,” kata Bannon.
Menanggapi hal itu, Epstein membalas bahwa intelektual Noam Chomsky bertanya kapan film tersebut akan dirilis.
Sejarah Ketegangan MAGA dengan Paus Fransiskus
Hubungan antara gerakan MAG (Make America Great Again) dengan mendiang Paus Fransiskus memang penuh gesekan selama bertahun-tahun.
Dulu, Donald Trump pernah dikritik oleh Paus pada 2016 terkait pembangunan tembok perbatasan Mexico, di mana Paus menyebut sikap tersebut “bukanlah cerminan Kristen.”
Hampir satu dekade kemudian, pada Januari 2025, sehari sebelum pelantikan kedua Trump sebagai Presiden AS, Paus mengecam rencana deportasi massal sebagai sebuah “aib.”
JD Vance Wakil Presiden AS juga sempat berselisih paham mengenai konsep “hierarki kasih.” Paus Fransiskus menegaskan bahwa kasih Kristen tidak memiliki batasan konsentris atau prioritas golongan tertentu.
Meski sempat terjadi pertemuan antara JD Vance dan Paus Fransiskus pada Minggu Paskah tahun 2025 di Roma, hubungan tersebut tetap dingin hingga akhir hayat sang Pontifeks. Paus Fransiskus dikabarkan meninggal dunia sehari setelah pertemuan tersebut, tepatnya pada 21 April 2025. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
