Senin, 16 Februari 2026

Pelaku Penembakan Massal di Pantai Bondi Australia Hadapi Pengadilan Perdana

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Para pelayat memberikan penghormatan di luar Bondi Pavilion di Sydney, Australia pada 18 Desember 2025 untuk menghormati para korban penembakan di Pantai Bondi. Foto: Getty Images

Naveed Akram, terdakwa penembakan di Pantai Bondi Australia, muncul di pengadilan Sydney untuk pertama kalinya pada Senin (16/2/2026).

Pria berusia 24 tahun itu muncul selama sekitar lima menit melalui tautan video dari penjara dan menghadapi 59 dakwaan, termasuk 15 dakwaan pembunuhan dan satu dakwaan melakukan serangan teroris.

Insiden terjadi pada 14 Desember 2025, ketika Akram dan Sajid Akram ayahnya menyerang acara Hanukkah di pantai tersebut, menewaskan 15 orang dan melukai lebih dari 40 korban.

Sajid Akram (50 tahun) ditembak mati oleh polisi di lokasi kejadian. Sementara Naveed Akram mengalami luka kritis, kemudian dipindahkan dari rumah sakit ke penjara supermax Goulburn.

Dalam persidangan Senin, Akram hanya mengucapkan satu kata saat Sharon Freund Wakil Ketua Hakim menanyakan apakah dia mendengar diskusi tentang perpanjangan perintah pembatasan pemberitaan: “Ya”.

Perintah pengadilan juga melindungi identitas para penyintas, meski mereka tetap diperbolehkan mengungkapkan diri sendiri jika ingin.

Di luar pengadilan, Ben Archbold pengacara Akram, mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan strategi pembelaan kliennya. Ia menambahkan bahwa kondisi Akram “sebaik yang diharapkan” di tahanan supermax.

“Semua orang tahu ini penjara supermaksimum… kondisinya sangat berat,” ujar Archbold kepada wartawan dilansir dari BBC.

Mengenai keterlibatan Akram dalam wawancara polisi, Archbold menegaskan, “Yang kami lakukan hanyalah memulai prosesnya. Kami menunggu berkas perkara diserahkan. Tidak ada lagi yang bisa saya katakan.”

Dokumen pengadilan yang dirilis pada Desember menyatakan bahwa Akram dan ayahnya “dengan cermat” merencanakan serangan selama berbulan-bulan dan melakukan pengintaian dua hari sebelum penembakan.

Rekaman video dari Oktober menunjukkan keduanya duduk di depan gambar bendera kelompok Negara Islam (ISIS) dan menyampaikan pernyataan mengenai motivasi serangan mereka serta mengutuk “tindakan ‘Zionis’.”

Polisi juga menemukan rekaman pelatihan senjata api di lokasi pedesaan di New South Wales, di mana mereka menembakkan senapan dan melakukan latihan taktis. Korban penembakan termasuk dua rabi, seorang penyintas Holocaust, dan seorang gadis berusia 10 tahun.

Akram dijadwalkan kembali hadir di pengadilan pada bulan April untuk melanjutkan proses hukum. (saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 16 Februari 2026
28o
Kurs