Generasi muda di China mulai merayakan Tahun Baru Imlek dengan cara yang berbeda dari tradisi klasik. Alih-alih mengunjungi kuil secara fisik, banyak anak muda kini mengadopsi tren yang disebut “Cyber Lunar New Year”. Yaitu perayaan Tahun Baru Imlek di ruang digital yang menggabungkan budaya lama dengan teknologi modern.
Beberapa tradisi Imlek yang dilakukan menggunakan ponsel pintar (smartphone) adalah membakar dupa digital, bertukar hadiah atau angpao , hingga pelukan dengan karakter berbasis kecerdasan buatan (AI).
Buat orang muda di China, mengunjungi kuil tidak perlu lagi dilakukan secara langsung. Melainkan bisa beralih ke dunia virtual. Faktor yang melatarbelakangi tren ini adalah kelelahan dari aktivitas harian.
Banyak anak muda kini memilih live stream dengan suasana religi, seperti asap dupa digital dan lampu lentera, yang memberikan nuansa tenang tanpa perlu keluar rumah.
Melansir South China Morning Post, beberapa aplikasi bahkan menawarkan simulasi alat ibadah digital, yang diklaim membantu pengguna merilekskan pikiran.
Fenomena ini mencerminkan penafsiran generasi muda China terhadap perayaan Imlek 2026 di era digital. Namun perayaan tetap menghormati akar budaya, dan menyesuaikan dengan gaya hidup modern yang sangat bergantung pada teknologi.
Platform penyedia layanan membandrol harga membakar dupa virtual sebesar 5,9 yuan (sekitar Rp14.384) dan menyalakan lampu berkah seharga 9,9 yuan (sekitar Rp24.137).
Total ada 891.500 pengguna yang tertarik dengan layanan Imlek virtual tersebut. Tercatat juga secara kolektif telah mengikat 1,23 juta pita doa di pohon harapan dunia maya dan menyalakan 539.800 lampu perdamaian di dunia digital.(lea/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
