Selasa, 17 Februari 2026

DPRD Surabaya Temukan Lansia Rawat 4 Cucu Tak Terdaftar Warga Miskin

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Imam Syafii Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya saat berbincang dengan Sumiati serta empat cucunya sembari menyerahkan sepeda angin biru, Sabtu (15/2/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

DPRD Kota Surabaya menemukan wanita lanjut usia (lansia) merawat 4 cucu dan 1 anak kesulitan makan, namun gagal diakui miskin diduga karena kondisi rumah masih kategori layak.

Tim suarasurabaya.net ikut langsung Imam Syafii Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, yang membidangi kesejahteraan rakyat meninjau ke rumah tinggal warga tersebut berukuran sekitar 3 x 5 meter tingkat dua, namun lebih terlihat seperti rumah toko (ruko) di Jalan Gresik, Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Sabtu (14/2/2026) pagi.

Pantauan di lokasi, area lantai 1 itu dilengkapi rolling door atau pintu gulung berisi kasur, meja, lemari tempat pakaian, dan kamar mandi di bagian ujung. Kondisinya nampak kotor, namun lantai keseluruhan memakai keramik putih.

Di rumah itu dihuni Sumiati (60 tahun), bersama anak keduanya laki-laki Dimas Alif (31 tahun), cucu pertama Areta (14 tahun) kelas 8 SMPN, Kinanti dan Kinanta cucu kembarnya usia 6 tahun belum sekolah, dan Aruni cucu keempat (3,5 tahun). Keempat cucunya, merupakan anak dari Mariana, anak pertamanya yang tinggal di Sidoarjo.

Imam menduga kondisi rumah lansia ini belum memenuhi kategori warga miskin sehingga saat Nomor Induk Kependudukan (NIK) dicek di website https://sikeluargamiskin.surabaya.go.id/ tidak terdaftar.

Imam Syafii Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya saat menunjukkan NIK Sumiati yang dicek tidak terdaftar warga miskin, Sabtu (15/2/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

“Aturan-aturan yang dibuat pemerintah terutama dari pemerintah pusat kemudian diturunkan ke pemerintah daerah itu kadang-kadang termasuk angka-angka statistik itu tidak riil dengan kenyataan di lapangan. Karena itu kami masih banyak menemukan persoalan-persoalan ini,” katanya di lokasi.

Menurutnya kondisi lansia bernama Siti Sumiati (60 tahun) menghidupi 4 cucu dan 1 anak laki-laki mengandalkan belas kasihan tetangga karena tidak bekerja itu seharusnya masuk data warga miskin.

“Saya berharap pemerintah menentukan miskin itu jangan administratif, tapi substantif. Apalagi kalau kemudian tidak dapat penghasilan. Nah, kalau (penentuan keluarga miskin) yang dihitung hanya (jumlah) pengeluaran ya. (Ibu Sumiati mendapat uang dari anak perempuannya, ibu dari 4 cucunya) Rp50.000 untuk 3 hari ini kan berat ya. Tapi itu pun kadang-kadang masih tergantung ada tetangganya yang punya warung. Kalau sisa makanan baru diberikan. Terus ada tetangganya yang ngirim beras,” tutur Imam.

Ia minta pemkot melakukan monitoring kasus kemiskinan baru seperti yang terjadi pada keluarga Sumiati setelah suaminya meninggal. Usaha laundry yang pernah menghasilkan, sudah merugi dan tutup. Sehingga menurutnya kategori desil 1-5 yang menentukan warga berhak mendapat bantuan sosial perlu dikaji ulang.

“Ini yang menurut saya proses-proses pemiskinan baru atau warga-warga miskin baru ini betul-betul dilihat kalau memang mereka antara pengeluaran dan pendapatan jomplang (tidak setara) ya ini harus segera diintervensi,” katanya lagi.

Meski desil itu aturan nasional, ia mendorong pemkot melakukan diskresi jika menemukan data di lapangan tidak sesuai dan butuh pembaruan.

“Misalnya kami di DPRD nanti mungkin dengan aparat penegak hukum ya, kayak begitu. Kami ingin misalnya ayo kita duduk bersama sehingga ada solusi. Selain itu kan ada CSR, selain itu kan ada Baznas gitu,” bebernya lagi.

Sementara Sumiati menyebut, cucunya total lima, namun karena kesulitan ekonomi, cucu kelima dirawat keluarga di Kalimantan.

“Ya enggak mampu soalnya, saya enggak kerja, terus anak saya laki-laki enggak kerja, jadi enggak ada pemasukan gitu. (Ibu dari 5 cucunya) tidak bisa membawa anak-anaknya sendiri karena kalau dibawa enggak bisa kerja,” bebernya.

Sepengetahuannya, Mariana bekerja sebagai penjaga warung, penghasilannya terbatas sehingga hanya mengirim nafkah untuk keempat anaknya yang tinggal bersama Sumiati sebesar Rp50.000 setiap 3 hari.

“Terus saya (serabutan) ini kadang disuruh orang cuci, suruh orang apa gitu baru bisa nambahin (penghasilan),” ceritanya.

Pekerjaan serabutan sebagai buruh cuci atau pekerjaan rumah tangga yang biasa didapat Sumiati, tidak menentu. Saat tidak ada, ia mengaku sering sakit perut sekeluarga karena menahan lapar, menunggu pemberian makanan dari sekitar.

“Terus kadang minta tetangga. Mbak, itu nasinya ada yang masih dingin ta,” katanya menirukan pertanyaannya ke tetangga.

Ia menyebut, kondisi kesulitannya sudah diketahui warga juga RT RW. Namun tak ada alasan yang melegakan setiap kali ia menanyakan statusnya sebagai warga miskin. Rumahnya sempat didatangi kader-kader setempat untuk pendataan, namun belum mendapat bantuan.

“RT-nya jawab saya sendiri enggak dapat kok,” tuturnya.

Ia berharap bisa mendapat bantuan dan semua cucunya kelak bisa tercover sekolah, dan anak laki-lakinya mendapat pekerjaan.

Suarasurabaya.net sudah menghubungi sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) pemkot Surabaya terkait, kemudian ditindaklanjuti dengan peninjauan ke lokasi hari ini, Selasa (17/2/2026) oleh Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, serta jajaran lain.

Dikonfirmasi di lokasi saat peninjauan, Ida Widayati Kepala DP3APPKB Surabaya menyebut, tim konselor akan menemui Mariana untuk mengingatkan tanggung jawab pengasuhan anak-anaknya, agar tidak dilimpahkan ke ibunya yang lansia.

Sementara Imam Mahmudi Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya menyebut, berdasarkan data nasional, Sumiati masuk desil 6, pra Sejahtera, sehingga tidak mendapat bantuan sosial yang diberi ke desil 1-5.

Namun Dinsos sudah memproses pembaruan data, sejak Oktober 2025 lalu dalam pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang mengerahkan 5.000 Aparatur Sipil Nasional (ASN). (lta/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 17 Februari 2026
29o
Kurs