AM (16) siswa salah satu sekolah di kawasan Wonokromo, Surabaya diduga mendapat bullying dari teman sekolahnya, setelah orang tua korban mendapati luka lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Menurut Dewi, bibi AM, korban telah mendapat perilaku tidak menyenangkan sejak pertama kali masuk ke sekolah tersebut.
“Sekolah itu bukan khusus inklusi. Di sana hanya ada AM dan satu teman lainnya yang merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK),” katanya, dikonfirmasi suarasurabaya.net, Jumat (20/2/2026).
Dewi menceritakan bahwa AM tidak pernah mau menceritakan aksi bullying yang dilakukan teman-temannya, karena takut permasalahannya jadi membesar. Sementara, jika masalah membesar, AM takut merepotkan orang tuanya.
“Kondisi keluarga AM ini termasuk menengah ke bawah. Dia lima bersaudara juga. Makanya dia nggak mau cerita, takut orang tuanya makin repot,” ungkap sang bibi.
Selama ini, selain mendapatkan ejekan dari teman sekolah, AM juga jadi memiliki banyak utang. Karena teman-temannya selalu minta ditraktir oleh AM.
Untuk menutup utang itu, lanjut Dewi, AM rela melakukan live jualan di media sosial hingga kadang mengamen. Lagi-lagi, karena dia tidak mau merepotkan orang tuanya.
Pecahnya Dugaan Bullying
Semakin hari, AM disebut makin sering mendapat tindakan tidak menyenangkan. Bukan lagi ejekan, tapi juga tindakan fisik seperti, menjegal, menampar, dan masih banyak lagi.
Yang terbaru hingga membuat masalah ini pecah adalah saat AM tertidur di kelas, sewaktu pelajaran Agama. Dia dibangunkan guru untuk mencuci muka supaya tidak terasa mengantuk.
“Setelah dari kamar mandi, ternyata AM dicegat oleh beberapa teman. Dia sampai memilih memutar arah, mengambil rute lain yang lebih jauh supaya tidak menimbulkan masalah. Di situ ternyata AM ditantang oleh temannya untuk satu lawan satu,” ungkapnya.
Karena merasa sudah sangat parah, AM menerima tantangan itu.
“Ayo kalau berani satu lawan satu. Ayo di mana? Kapan?” tiru sang Bibi.
Setelah pulang sekolah, AM langsung dicegat oleh teman-teman yang menantangnya. Dia diejek, sepatunya diambil dan dibawa mondar-mandir.
Saat AM maju untuk melawan, lanjut Dewi, satu temannya juga ikut maju dan langsung menonjok AM. Kemudian diikuti oleh beberapa teman lainnya.
Korban Dirawat di RS Menur
Setelah membuat laporan ke Polrestabes Surabaya dan mendapat tanggapan dari beberapa pihak terkait, AM dibawa ke Rumah Sakit (RS) Menur untuk mendapat perawatan intensif.
“Oleh DP3A Pemkot Surabaya, diarahkan ke RS Menur. Supaya AM mendapat perawatan intensif, baik luka fisik maupun mental yang didapat dari kasus tersebut,” jelasnya.
Polisi Dalami Dugaan Bullying
Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait dugaan bullying yang menimpa AM (16) anak berkebutuhan khusus (ABK) yang merupakan siswa salah satu sekolah di kawasan Wonokromo, Surabaya.
AKBP Melatisari Kasat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polrestabes Surabaya mengatakan, pihaknya baru mendapat keterangan dari korban yang sempat dirawat di rumah sakit.
“Kami baru bisa memintai keterangan korban Rabu (18/2/2026) kemarin. Karena korban masih dirawat di rumah sakit,” katanya, dikonfirmasi suarasurabaya.net, Jumat (20/2/2026).
Melati mengatakan, polisi belum bisa menyimpulkan apakah dugaan pemukulan ini merupakan kategori bullying atau bukan. Karena, informasi yang didapat baru dari keluarga korban dan pihak sekolah.
“Kalau pihak sekolah jawabannya normatif ya. Mereka mengetahui dan membenarkan adanya pemukulan itu. Tapi pihak sekolah tidak mengetahui penyebab dari pemukulan itu,” ungkapnya.
Adapun pekan depan, pihak kepolisian akan memintai keterangan terhadap murid-murid lain yang terlibat dalam dugaan bullying tersebut.(kir/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
