Selasa, 3 Maret 2026

Konflik AS–Israel Vs Iran Picu Tekanan Pangan dan Ekspor, Kadin Jatim Minta Respons Cepat

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jawa Timur. Foto: Kadin Jatim

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin meluas dinilai berpotensi menekan perekonomian Jawa Timur, terutama melalui kenaikan harga energi, fluktuasi nilai tukar, dan melonjaknya biaya logistik internasional.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menekankan perlunya respons cepat dan terukur agar stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga.

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jatim menyebutkan dua jalur utama dampak konflik: perdagangan langsung dengan kawasan Timur Tengah dan efek berantai dari kenaikan harga minyak dunia serta gangguan rantai pasok global.

“Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, kawasan yang sangat sensitif. Ketegangan ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran internasional, sehingga berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk ke Indonesia,” kata Adik dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Senin (2/3/2026).

Kadin Jatim menyoroti sektor pangan berbasis impor, khususnya kedelai. Indonesia masih mengimpor 2,5–3 juta ton kedelai per tahun, sebagian besar dari AS, dengan nilai mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS. Jawa Timur sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional sangat bergantung pada pasokan ini.

“Kenaikan harga minyak dan ongkos pengiriman diperkirakan akan meningkatkan landed cost kedelai. UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin tipis. Jika harga kedelai melonjak, opsi yang tersisa bisa kenaikan harga jual, penyusutan ukuran produk, atau penghentian produksi sementara,” ujar Adik.

Selain pangan, kedelai juga menjadi bahan baku industri pakan ternak melalui bungkil kedelai. Kenaikan biaya pakan berisiko menular ke harga ayam dan telur, sehingga inflasi pangan di tingkat daerah bisa meningkat.

Dari sisi perdagangan luar negeri, Tommy Kaihatu Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional menyebutkan, kinerja ekspor Jawa Timur saat ini masih solid, dengan nilai mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dan surplus perdagangan lebih dari 800 juta dolar AS. Sekitar 10 persen ekspor ditujukan langsung ke Timur Tengah.

Namun, industri manufaktur, agroindustri, dan pengolahan di Jawa Timur sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan logistik.

“Eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi padat energi, tarif pengiriman kontainer, dan asuransi ekspor. Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus,” kata Tommy.

Untuk jangka pendek (0–30 hari), diperlukan koordinasi cepat antara pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri guna memastikan ketersediaan buffer stock kedelai minimal 1–2 bulan. Transparansi data stok dan distribusi melalui koperasi produsen juga penting untuk mencegah spekulasi harga.

Dalam jangka menengah (1–6 bulan), diversifikasi sumber impor kedelai harus dipercepat, efisiensi energi di industri ditingkatkan, dan pasar ekspor diarahkan ke kawasan non-konflik. Fasilitasi pembiayaan modal kerja bagi UMKM dan pendampingan manajemen risiko kurs serta freight surcharge bagi eksportir juga menjadi prioritas.

Meski tantangan global meningkat, Kadin Jatim menilai fundamental ekonomi Jawa Timur tetap kuat. “Kita tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama,” tegas Adik. (saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 3 Maret 2026
24o
Kurs