Selasa, 3 Maret 2026

Selat Hormuz Terancam Ditutup, Pasar Minyak Global Bergejolak

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: LBCI Lebanon

Ancaman penutupan Selat Hormuz menyusul ketegangan politik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mengguncang pasar ekonomi global.

Selat Hormuz berperan sebagai jalur penyaluran vital untuk ekspor minyak dunia. Jika Iran merealisasikan penutupan Selat Hormuz maka akan memicu lonjakan harga minyak dan perekonomian global, juga setidaknya akan menghambat 15 juta barel minyak mentah perharinya.

Dalam skenario terburuknya, melansir dari The Guardian, para ahli mengatakan harga pasar minyak bisa melonjak dari sekitar $67 per barel pada Jumat malam menjadi $100.

Pasar keuangan kini memprakirakan kenaikan harga minyak mentah Brent capai kenaikan 9 persen menjadi $73 per barel hanya pada hari Senin (2/3/2026).

Rystad Energy memprediksi harga minyak mentah bisa melonjak tajam hingga mencapai $90 per barel. Kenaikan drastis ini hanya bisa dihindari jika ada penurunan ketegangan secara cepat pada hari Minggu pekan ini sebelum pasar minyak New York melanjutkan perdagangan kembali.

Tamsin Hunt Analis Senior di S-RM menyatakan dalam skenario kampanye AS setiap serangan terhadap jalur produksi dan pasokan minyak Iran akan mengganggu aliran ke mitra dagang utamanya, China, sehingga mendorong kenaikan harga secara global.

Meskipun demikian, hingga kini Iran memang belum secara resmi mendeklarasikan bahwa dirinya akan menutup urat nadi perdagangan minyak dunia tersebut.

Dalam keterangannya, Hunt juga mengatakan penutupan selat sepenuhnya akan sangat merugikan perekonomian Iran sendiri, karena itu berarti menghentikan semua ekspor minyak dan barang lainnya.

“Menutup selat sepenuhnya akan sangat merugikan perekonomian Iran sendiri, karena itu berarti menghentikan semua ekspor minyak dan barang lainnya. Iran kemungkinan hanya akan menutup selat sebagai upaya terakhir jika rezim merasa kelangsungan hidupnya terancam,” terangnya.

Ajay Parmar Pakar Pasar Energi ICIS turut merespon hal ini dengan harapan Donald Trump dapat mengambil kebijakan untuk menghindari eskalasi yang menyebabkan harga minyak global meroket. Ia juga seharusnya dapat melihat dari sisi meningkatnya biaya bagi para pemilih AS di pemilihan paruh waktu pada bulan November, jika hal ini terjadi nantinya.

Di sisi lain, Parmar menilai penutupan selat itu akan menjadi taktik pilihan terakhir bagi Iran.

“Menutup selat itu akan menjadi taktik pilihan terakhir bagi Iran. Kita akan melihat hal ini dalam skenario perang terbuka,” katanya.

Seperti diketahui Selat Hormuz adalah selat laut sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi arteri utama perdagangan dunia. Sekitar 20 persen dari seluruh minyak mentah yang diperdagangkan secara global setiap hari melewati selat ini.

Lokasi selat ini menjadikannya titik rawan yang sangat penting untuk pengiriman minyak dari negara-negara OPEC ke pelanggan di Asia. Sehingga pilihan untuk menghindari selat ini sangat terbatas.

Selain itu, Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar keempat di dunia, dengan cadangan mencapai 170 miliar barel minyak, atau sekitar 9% dari seluruh minyak mentah global.

Menurut para ahli yang dikutip dari The Guardian, meskipun ekspor minyak mentah Iran hanya mencakup sekitar 3-4% dari pasar global, signifikansinya bagi pasar minyak global jauh melampaui produksi dalam negerinya sendiri.

Jorge León Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy menyebut bobot geopolitik Iran berakar pada lokasi strategisnya, pengaruhnya terhadap dinamika keamanan regional, dan kemampuannya untuk mengganggu infrastruktur energi dan jalur transit yang penting.(mar/lta/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 3 Maret 2026
31o
Kurs