Sabtu, 7 Maret 2026

Menteri Lingkungan Hidup Akan Usulkan Tempat Pengolahan Sampah Energi Listrik Kedua di Surabaya

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya. Foto: Diskominfo Surabaya

Hanif Faisol Nurofiq Menteri Lingkungan Hidup (LH) berencana mengusulkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) kedua di Kota Surabaya. Usulan tersebut muncul, setelah Menteri LH melihat kinerja pengolahan sampah di PSEL TPA Benowo yang dinilai cukup berhasil.

Dalam kunjungan kerjanya ke Surabaya, Jumat (6/3/2026), Hanif menyampaikan bahwa pemerintah pusat terus memantau operasional PSEL di TPA Benowo.

Ia juga memastikan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat untuk mendukung keberlanjutan program pengolahan sampah berbasis energi tersebut.

“Pendanaan untuk 2025 akan kita cairkan setelah mendapat izin dari Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Keuangan. Tahun ini juga akan kita sampaikan kembali karena sebelumnya sempat terkendala perubahan Perpres dan proses pemeriksaan oleh BPK,” kata Hanif.

Hanif Faisol Nurofiq Menteri Lingkungan Hidup (LH) saat kunker ke Surabaya, Jumat (6/3/2026). Foto: Istimewa

Hanif menjelaskan, saat ini volume sampah yang masuk ke PSEL Benowo mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Namun, fasilitas yang ada baru mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari. Sisa sekitar 800 ton sampah inilah yang menjadi dasar usulan pembangunan PSEL kedua di Surabaya.

Menurutnya, usulan pembangunan fasilitas baru tersebut telah disampaikan kepada Prabowo Subianto Presiden RI agar kapasitas pengolahan sampah di Surabaya dapat ditingkatkan secara signifikan.

“Kemudian ada sisa sekitar 800 ton. Dengan berbagi dengan kabupaten dan kota di sekitarnya hingga mencapai 1.000 ton, kami sudah mengusulkan kepada Presiden untuk dilakukan pembangunan PSEL tahap kedua,” ujarnya.

Dengan tambahan fasilitas tersebut, Hanif optimistis tingkat penyelesaian sampah di Surabaya bisa mencapai hingga 95 persen dalam beberapa tahun ke depan. Angka tersebut dinilai menjadi yang tertinggi di Indonesia untuk kota besar.

“Kita tidak pernah menyangka kota sebesar ini mampu menyelesaikan persoalan sampahnya. Hampir tidak ada kota besar di Indonesia yang bisa menyelesaikan sampah secara mandiri. Banyak daerah masih mengalami kondisi darurat sampah. Tapi Surabaya mampu menyelesaikannya,” jelasnya.

Meski demikian, Hanif menekankan bahwa pengolahan sampah melalui PSEL bukan satu-satunya solusi. Ia meminta masyarakat tetap memaksimalkan pemilahan sampah dari sumbernya.

Menurutnya, pemilahan sampah merupakan teknologi paling efektif dalam pengelolaan sampah karena dapat meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi residu yang harus diolah di PSEL.

“PSEL hanya untuk menangani residu sampah. Karena itu pemilahan tetap harus dimaksimalkan. Dengan begitu sampah bisa menjadi sumber daya sekaligus menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya mengatakan bahwa program pemilahan sampah di Surabaya sudah berjalan cukup baik, tidak hanya di lingkungan permukiman tetapi juga di pusat perbelanjaan dan hotel.

Ia berharap dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan PSEL kedua dapat semakin memperkuat kemandirian pengelolaan sampah di Surabaya.

“Dengan pernyataan Pak Menteri (LH) ini, kemandirian pengelolaan sampah di masing-masing perkampungan dan tempat usaha akan semakin kuat. Beban APBD untuk penanganan sampah juga bisa berkurang,” ujar Eri.

Di sisi lain, Dedik Irianto Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengungkapkan bahwa lokasi PSEL kedua direncanakan berada di kawasan dekat TPS 3R Sumberrejo, Kecamatan Pakal.

Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun yang akan didukung oleh Danantara.

Dedik menambahkan, pengoperasian PSEL baru nantinya juga akan melibatkan kerja sama dengan beberapa daerah sekitar seperti Kabupaten Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan untuk memenuhi kapasitas pengolahan sampah.

“Harus kolaborasi karena jika jumlah sampah yang masuk kurang dari 1.000 ton per hari, akan ada penalti operasional,” pungkasnya. (lta/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Sabtu, 7 Maret 2026
26o
Kurs