Jumat, 10 April 2026

Iran Tetapkan Jalur Pelayaran Alternatif di Selat Hormuz Karena Risiko Ranjau Laut

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Pelayaran di Selat Hormuz. Foto: Anadolu

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menetapkan jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini diambil dengan alasan adanya risiko ranjau laut di jalur utama pelayaran.

Melansir laporan Mehr News Agency, IRGC memperingatkan bahwa situasi di Teluk dan Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi “situasi perang”. Mereka menyebut kemungkinan adanya ranjau laut di jalur transit utama sebagai ancaman serius bagi kapal yang melintas.

Dalam pernyataannya, IRGC mewajibkan seluruh kapal yang hendak melintasi jalur strategis tersebut untuk mengikuti rute alternatif yang telah ditentukan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Untuk kapal yang masuk (inbound), IRGC mengarahkan agar pelayaran dilakukan dari Teluk Oman ke arah utara, melewati Pulau Larak, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Teluk.

Sementara untuk kapal yang keluar (outbound), jalur diarahkan dari Teluk dengan melintas di selatan Pulau Larak, kemudian menuju Teluk Oman.

Kebijakan ini dilakukan dengan koordinasi otoritas angkatan laut IRGC guna menjamin keselamatan pelayaran dan menghindari potensi tabrakan dengan ranjau.

“Dengan mempertimbangkan kondisi perang di Teluk dan Selat Hormuz serta potensi keberadaan ranjau laut di area utama selat, semua kapal wajib mengikuti jalur navigasi alternatif,” demikian pernyataan resmi IRGC yang dikutip Anadolu, Kamis (9/4/2026).

Situasi di Selat Hormuz sendiri masih belum stabil. Iran sempat menutup total jalur tersebut sebelum kemudian membuka secara terbatas menyusul pengumuman gencatan senjata sementara dengan AS.

Di sisi lain, sumber pemerintah Pakistan menyebut delegasi AS dan Iran dijadwalkan menggelar pembicaraan langsung di Islamabad pada Sabtu mendatang. Pertemuan ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen guna menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Negosiasi tersebut diperkirakan tidak hanya berlangsung satu hari, mengingat kompleksitas konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan serta jalur perdagangan global. (bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 10 April 2026
31o
Kurs