Selasa, 14 April 2026

Civitas Akademika Unesa Suarakan Pesan Damai di Tengah Ketegangan Geopolitik Global

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Arinto Nugroho (dari kiri) Dekan FH Unesa, Mutimmatul Faidah Direktur PPIS, Bachtiar Syaiful Bachri Wakil Rektor 2, dan Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba Kepala Subdirektorat Satgas Pencegahan dan Penangan Kekerasan dalam jumpa pers di Unesa, Surabaya, pada Senin (13/4/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Civitas akademika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyuarakan pesan damai untuk dunia bertajuk “Voices for Global Peace” dalam rangkaian bulan Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) tahun ini.

Bachtiar Syaiful Bachri Wakil Rektor II Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha, mengatakan bahwa upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk respons perguruan tinggi terhadap dinamika hukum dan politik internasional sekaligus komitmen menjaga kondusivitas internal kampus.

“Kampus harus menjadi laboratorium untuk mencetak generasi yang aktif membawa pesan damai,” kata Guru Besar pengembangan kurikulum Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) tersebut, pada Senin (13/4/2026).

Ia menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam menyuarakan pesan damai dan menjaga stabilitas dunia.

Selain menegaskan langkah perguruan tinggi untuk perdamaian dunia, pihaknya menyatakan bahwa kampus juga memberikan garansi keamanan melalui langkah strategis bagi seluruh civitas academika di lingkungan kampus.

“Mahasiswa harus mendapatkan kepastian tentang kenyamanan selama belajar di kampus, mulai pagi hingga malam. Ini adalah laboratorium yang menyiapkan generasi masa depan, maka keamanan fisik maupun psikis civitas adalah prioritas kami,” tambahnya.

Mutimmatul Faidah Direktur PPIS Unesa menambahkan pentingnya keberanian civitas akademika untuk speak up ketika terjadi kekerasan di kampus. Menurutnya, jika ada pelaporan bukan berarti kampus tidak aman, tapi justru keberanian speak up benar-benar terlaksana.

“Adanya laporan adalah bukti bahwa sistem keterbukaan informasi kita berjalan. Ketika kekerasan disuarakan, maka rantainya akan terputus karena korban mendapat pendampingan profesional dan pelaku menerima sanksi tegas sesuai aturan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengtakan bahwa kampus saat ini menyediakan layanan kesehatan mental dan pelaporan kekerasan 24 jam yang dapat diakses civitas, bisa secara digital maupun luring.

Iman Pasu Marganda Hadiarto Purba Kepala Subdirektorat Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) menyoroti munculnya tren kejahatan baru di era digital seperti sextortion (pemerasan seksual daring) hingga terjebak dalam toxic relationship.

Sesuai instruksi rektor, perlindungan mahasiswa kini melampaui batasan Tridarma Perguruan Tinggi. Satgas PPK kini turut menangani tantangan pribadi mahasiswa yang berpotensi mengganggu kesehatan mental dan masa depan mereka.

Di sisi lain, Arinto Nugroho Dekan Fakultas Hukum memperkuat mitigasi ideologi ekstrem melalui Pusat Kajian Antiterorisme (PIKAT). Bekerja sama dengan Densus 88, lembaga tersebut aktif memantau dan menganalisis potensi paparan radikalisme, terutama pada kelompok mahasiswa baru yang tengah mencari jati diri.

“Diskusi ini bahkan menghadirkan mantan pelaku untuk memberikan gambaran nyata betapa rentannya mahasiswa baru terhadap pola rekrutmen kelompok radikal. Kita ingin mereka waspada sejak dini,” ujar Arinto.

Sebagai simbol komitmen terhadap kedamaian, mahasiswa Unesa menuliskan pesan perdamaian dunia dalam secarik kertas yang nantinya akan dibukukan.

Seperti diketahui, rangkaian Bulan PPIS 2026 akan berlanjut dengan 17 agenda strategis lainnya di berbagai fakultas sepanjang April, untuk mempertegas posisi kampis sebagai institusi yang berkemajuan dan menjaga martabat kemanusiaan.(ris/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 14 April 2026
33o
Kurs