Narendra Modi Perdana Menteri India meminta masyarakat mengurangi konsumsi bahan bakar di tengah melonjaknya harga energi global akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah kembali menerapkan pola kerja dari rumah atau work from home (WFH).
Dalam pernyataannya yang dikutip India Today, Modi mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki pengalaman beradaptasi dengan sistem kerja jarak jauh sejak pandemi Covid-19.
“Selama periode virus Corona, kita menerapkan kerja dari rumah, rapat daring, konferensi video, dan mengembangkan banyak sistem semacam itu,” ujar Modi.
Menurut Modi, kebiasaan tersebut kini kembali relevan diterapkan sebagai bagian dari upaya nasional untuk mengurangi konsumsi energi, terutama bahan bakar minyak.
“Bensin dan solar telah menjadi sangat mahal di seluruh dunia. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk menghemat devisa yang digunakan membeli bensin dan solar dengan cara mengurangi penggunaannya,” katanya dilansir dari Antara, Senin (11/5/2026).
Selain mendorong efisiensi energi, Modi juga mengimbau masyarakat menekan pengeluaran yang dianggap tidak mendesak, termasuk menunda pembelian emas untuk keperluan pernikahan selama satu tahun.
Pemerintah India juga mulai menyoroti sektor pertanian sebagai bagian dari strategi penghematan devisa. Modi meminta petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor dan mulai beralih ke pertanian alami.
“Kita harus mengurangi konsumsi pupuk kimia hingga setengahnya dan beralih ke pertanian alami,” ujar Modi.
Ia menilai langkah tersebut tidak hanya membantu menekan impor, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan sektor pertanian India.
“Dengan cara ini, kita dapat menghemat devisa dan melindungi pertanian kita serta Ibu Pertiwi,” tambahnya.
Kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi muncul setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan kawasan memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.
Dampak konflik juga dirasakan pada jalur perdagangan energi dunia, terutama di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi internasional dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

