Pemerintah menilai salah satu faktor yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yakni persepsi di pasar bahwa pengelolaan fiskal Indonesia berjalan kurang baik.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan, isu ini kerap digembar-gemborkan. Di tambah adanya pembahasan soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Jadi, kelihatannya Kesan bahwa fiskal kurang baik pelaksanaannya. Apalagi kalau kita lihat data bulan Maret seolah-olah defisitnya besar 0,9 mereka kali empat 3,6 artinya sudah lepas dari tiga persen limit kan (batas defisit). Itu yang di gembar-gemborkan. Utamanya itu, terus ditarik ke BGN dan lain-lain. Cari kelemahannya terus,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (5/6/2026).
Ia mengatakan, kondisi fiskal selalu dibingkai seolah-olah berantakan, sehingga membuat nilai tukar rupiah dan IHSG merosot.
“Sehingga kira-kira mereka bilang fiskalnya jadi berantakan. Itu yang fit in ke pelemahan nilai tukar dan saham. Dari situ mereka bilang bukan lembaganya ya. Jadi orang-orang bilang berarti ekonominya morat-marit nih, investor akan keluar. Karena lembaga pemerintah akan men-down grade kita, karena pelaksanaan fiskalnya berantakan,” ujarnya.
Meski begitu, Purbaya menekankan, keadaan fiskal Indonesia bagus. Namun di pasar saham ada ketidakpastian yang terjadi, sehingga hal ini menganggu keadaan IHSG dan nilai tukar rupiah saat ini
“Tapi waktu saya tanya kemarin ke lembaga pemeringkat S&P, Oh, sudah bagus, sudah ini. Cuma gini pak katanya, ada uncertain (ketidakpastian) di market. Itu rupiah melemah sehingga mungkin fisikalnya terganggu, jadi bolak-bolak ini,” ungkapnya.
Purbaya menilai ada kesalahpahaman dari market dan analis yang menganggap pemerintah tidak menjalankan kebijakan fiskal yang bagus.
“Miskonsepsi dari market atau analis yang menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek, atau pak Prabowo (Presiden) menjalankan kebijakan fiskal tidak hati-hati. Padahal pak Prabowo clear banget defisit kita dia atur di bawah tiga persen. Tahun depan dia maunya 1,8 persen,” ungkapnya.
Meski Prabowo meminta defisit dijaga di angka 1,8 persen, Purbaya meminta target maksimal defisit lebih tinggi. Karena Indonesia masih memerlukan dorongan lebih tinggi. Akhirnya, kata Purbaya, Presiden menyetujui angka target defisit bulan depan masih bisa naik sedikit dari angka 1,8 persen.
“Bahkan kita rayu-rayu sedikitlah, janganlah pak nanti kita masih perlu dorongan ke ekonomi. Ya, lebih tinggi dari itu boleh sedikit. Jadi apa komitmen Pak Presiden untuk menjaga fiskal di bawah tiga persen amat kuat sekali. Jadi Kita tidak menjalankan kebijakan fiskal yang tidak hati-hati. Kami tahu apa yang kami kerjakan,” tegasnya.(lea/bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

