Sabtu, 27 Juni 2026

Jatim Bidik Investasi Bernilai Tinggi untuk Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ibrahim Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur. Foto: BI Jatim

Ibrahim Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim yang mencapai 5,96 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada triwulan I 2026 menjadi modal penting untuk menarik investasi yang lebih berkualitas.

Menurutnya, posisi strategis Jatim sebagai gerbang kawasan Indonesia Timur, ditambah dukungan infrastruktur dan struktur ekonomi yang kuat, juga menjadi daya tarik besar bagi investor.

“Investor tidak mencari daerah yang sempurna. Investor mencari daerah yang responsif, kolaboratif, dan memiliki komitmen kuat untuk terus memperbaiki diri. Jawa Timur memiliki modal tersebut. Tantangan kita ke depan adalah menghadirkan investasi yang semakin berkualitas, mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat hilirisasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (27/6/2026).

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ia menyatakan bahwa sinergi antarotoritas menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat daya saing daerah.

Dyah Wahyu Ermawati Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim menekankan pentingnya integrasi forum investasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Fokusnya antara lain menyiapkan proyek investasi yang siap ditawarkan atau Investment Project Ready to Offer (IPRO), mempercepat pengembangan kawasan industri, serta meningkatkan daya saing investasi Jatim,” ucapnya.

Horas V. M. Tarihoran Pelaksana Harian Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jatim mengatakan bahwa perluasan akses pembiayaan melalui sektor jasa keuangan juga menjadi langkah penting untuk mendukung perkembangan ekonomi.

“Ini penting untuk mendukung investasi, pengembangan UMKM, serta memperluas inklusi keuangan di daerah,” tuturnya.

M. Nashrul Wajdi Deputi Bidang Statistik Sosial BPS berharap, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 menghasilkan basis data ekonomi yang lebih komprehensif sehingga bisa menjadi landasan untuk memetakan potensi investasi, hingga kebutuhan pembiayaan.

“Serta untuk mengidentifikasi arah pengembangan ekonomi daerah,” ucapnya.

Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim menegaskan bahwa investasi berkualitas harus sejalan dengan pembangunan berkelanjutan.

“Harus berjalan beriringan dengan ketahanan pangan, peningkatan daya saing daerah, dan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Ia juga menyoroti pentingnya percepatan penyelesaian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), Lahan Baku Sawah (LBS), dan Lahan Sawah Dilindungi (LSD), termasuk sinkronisasi tata ruang, pengembangan kawasan industri, penguatan IPRO, serta percepatan penyelesaian hambatan investasi.

Pihaknya berharap, lewat kolaborasi antara BI, Pemprov Jatim, OJK, dan BPS, Jatim bisa memperkuat ekosistem investasi yang lebih kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi salah satu daerah pusat pertumbuhan ekonomi nasional. (ris/saf/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 27 Juni 2026
28o
Kurs