Senin, 29 Juni 2026

Rupiah Menguat ke Rp17.851 per Dolar AS, Meredanya Konflik AS-Iran Jadi Sentimen Positif

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi. Kurs rupiah naik. Foto: suarasurabaya.net

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan pada Senin (29/6/2026). Penguatan Rupiah didorong meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan optimisme pelaku pasar global.

Berdasarkan data perdagangan, kurs rupiah ditutup menguat 71 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.851 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.922 per dolar AS.

Lukman Leong analis Doo Financial Futures mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya sentimen pasar setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat menahan diri untuk sementara serta melanjutkan jalur diplomasi.

“Rupiah dan mata uang regional maupun utama dunia umumnya menguat terhadap dolar AS merespons laporan bahwa AS dan Iran akan ‘menahan diri untuk sekarang’ dan pembicaraan masih berjalan sesuai rencana,” ujar Lukman Leong dilansir dari Antara.

Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Iran mengecam serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah lokasi di pesisir selatannya. Teheran menilai tindakan Washington melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kesepakatan yang baru ditandatangani untuk mengakhiri konflik.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan delapan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Namun, situasi mulai mereda setelah laporan Axios menyebutkan bahwa kedua negara sepakat menghentikan permusuhan dan akan menggelar pertemuan di Qatar pada Selasa (30/6/2026).

Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas perselisihan terkait Selat Hormuz yang sebelumnya memicu kembali ketegangan akibat perbedaan penafsiran terhadap implementasi nota kesepahaman (MoU) penghentian perang.

Selain faktor geopolitik, harga minyak dunia yang cenderung stabil turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

“Harga minyak yang juga relatif stabil, meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan,” kata Lukman.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan rupiah masih berpotensi dibatasi oleh sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), terutama terkait prospek suku bunga acuan.

“Terkait pernyataan hawkish dan ekspektasi tingkat suku bunga Federal Reserve (The Fed), memang masih akan terus mendukung dolar dan menekan rupiah dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Menurut Lukman, pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat sepanjang pekan ini, termasuk data sektor manufaktur dan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP).

“Untuk pekan ini, sentimen bisa berlanjut, namun investor masih wait and see serangkaian data ekonomi penting AS seperti manufaktur dan pekerjaan NFP (Non-Farm Payrolls). Apabila data-data tersebut masih kuat, maka pejabat-pejabat The Fed akan melanjutkan retorika hawkish ke depannya,” katanya.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan. Pada Senin, JISDOR berada di level Rp17.956 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.962 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 29 Juni 2026
28o
Kurs