Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur (Ditjenpas NTT) menyebut Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Ruteng mengalami kerusakan lebih dari 50 persen, akibat gempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Decky Nurmansyah, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, menjelaskan bahwa terdapat empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Flores yang dipantau pascagempa, yakni Rutan Ruteng, Rutan Bajawa, Rutan Maumere, serta Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ende. Dari keempat UPT tersebut, Rutan Ruteng menjadi satu-satunya yang mengalami kerusakan signifikan.
“Dari pantauan hingga saat ini, ada beberapa gempa susulan. Namun, unit pelaksana teknis tersebut dalam kondisi aman, kecuali Rutan Ruteng yang saat ini lebih dari 50 persen bangunannya mengalami kerusakan,” kata Decky Nurmansyah, Kepala Kanwil Ditjenpas NTT, saat diwawancarai di Kupang, Senin.
Ia memastikan bahwa seluruh 171 warga binaan pemasyarakatan (WBP) beserta petugas di Rutan Ruteng dalam kondisi aman. Usai gempa terjadi, seluruh WBP diarahkan menuju titik kumpul dan sementara ditempatkan pada bangunan yang dinilai lebih kokoh.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan kerusakan pada sejumlah bagian bangunan dan tembok pembatas, termasuk tembok di sekitar blok hunian lansia dan ruang bimbingan kerja. Blok B, C, dan D turut menjadi perhatian khusus, karena kelayakannya perlu dipastikan lebih dulu sebelum kembali digunakan.
Decky Nurmansyah menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan rencana relokasi sementara bagi 171 WBP ke Rutan Bajawa, apabila akses jalan Ruteng-Bajawa dapat dilalui dan kondisi Rutan Bajawa memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.
“Kalau sudah oke, kami coba nanti set up di Bajawa. Nanti kita alihkan. Mudah-mudahan memenuhi syarat untuk bisa kita alihkan warga binaan yang ada di Ruteng ke Bajawa,” ujarnya.
Meski demikian, rencana tersebut masih dalam tahap persiapan, mengingat Rutan Bajawa berpotensi mengalami kelebihan kapasitas apabila harus menampung seluruh WBP dari Ruteng. Sementara itu, di Rutan Bajawa sendiri ditemukan keretakan pada beberapa bagian bangunan, meski tembok pembatas dilaporkan masih dalam kondisi baik dan situasi keamanan tetap kondusif.
Di Rutan Maumere, seluruh WBP dan petugas dilaporkan aman, dengan kondisi bangunan yang juga masih terjaga. Sementara itu, Lapas Kelas IIB Ende turut dilaporkan dalam kondisi aman dan terkendali.
Decky Nurmansyah memastikan tidak ada korban jiwa dari jajaran UPT Pemasyarakatan yang terdampak gempa.
“Puji Tuhan, alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Memang ada sedikit luka-luka karena ada puing-puing yang jatuh, tetapi sejauh ini alhamdulillah warga binaan aman, sehat,” katanya.
Ia juga memastikan bahwa kebutuhan dasar WBP, termasuk pasokan makanan, tetap terpenuhi dengan baik selama masa tanggap darurat berlangsung.
Terkait proses pemulihan Rutan Ruteng, Decky Nurmansyah menyebut pihaknya telah menerima informasi mengenai rencana alokasi anggaran tanggap darurat. Namun, pengajuan anggaran tersebut membutuhkan pendataan dan pemeriksaan teknis terlebih dahulu, guna menghitung tingkat kerusakan serta kebutuhan renovasi secara akurat.
“Penghitungannya harus benar secara teknis. Kami nanti akan melaporkan kebutuhan dan juga akan disurvei,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Ditjenpas NTT terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait lainnya, guna memastikan keselamatan WBP dan petugas, sekaligus mengantisipasi kebutuhan evakuasi lebih lanjut apabila diperlukan.(ant/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

