Kehadiran kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah dunia kerja. Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga berpotensi mengurangi sejumlah pekerjaan, terutama posisi pemula atau entry level.
Agustinus Noertjahyana Dosen Informatika Petra Christian University (PCU) mengatakan, pekerjaan entry level rentan digantikan AI karena umumnya memiliki pola dan prosedur yang mudah dipelajari mesin.
“Yang diambil oleh AI itu sebetulnya adalah di entry level. Jadi kalau kita ibaratkan itu masakan begitu ya. Jadi itu resep. Dari masakan itu kan ada resep. Resep itu kan semuanya sama. Nah, ini yang diambil oleh AI. Tapi kalau misalkan di level yang lebih tinggi, jadi bagian yang mencicipi rasa, lalu kemudian bagian yang mengaduk dan lain sebagainya. Nah, ini kan masih belum bisa dilakukan oleh AI saya kira,” ujarnya dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Selasa (15/9/2026).
Menurut Agustinus, perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap nilai tenaga kerja. Ia mencatat gaji sarjana yang pada era 2000-an bisa mencapai tiga hingga empat kali Upah Minimum Provinsi (UMP), terus menurun secara relatif hingga kini banyak lulusan sarjana menerima gaji setara UMP.
Efisiensi menjadi salah satu penyebabnya. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan jumlah pekerja lebih sedikit.
Di tengah perkembangan tersebut, Agustinus menilai kemampuan critical thinking (berpikir kritis) semakin penting. Kemampuan menganalisis fakta dan menilai benar-salah suatu informasi menjadi pembeda utama manusia dengan AI.
“Yang paling menarik itu justru penerapan terhadap critical thinking, Mas. Critical thinking ini semakin saya lihat itu semakin berkurang. Jadi, mulai bagaimana dia bisa melihat fakta, lalu kemudian melakukan analisis, apakah fakta ini benar atau salah dan lain sebagainya,” jelasnya.
Dampak AI juga mulai dirasakan pelaku UMKM dan profesi kreatif. Pembuatan desain, konten promosi hingga layanan pelanggan kini dapat dilakukan menggunakan AI dan chatbot, sehingga kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan seperti desainer dan penulis konten ikut berkurang.
Meski demikian, profesi yang membutuhkan kemampuan teknis dan pemecahan masalah masih dinilai memiliki prospek kuat. Programmer dan tenaga yang mampu mengeksekusi solusi teknis disebut tetap dibutuhkan dengan nilai kompetensi yang tinggi.
Agustinus mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI dapat menimbulkan persoalan regenerasi tenaga ahli. Dalam delapan hingga 10 tahun ke depan, pekerja senior yang mampu menilai kualitas pekerjaan bisa pensiun, sementara generasi berikutnya belum tentu memiliki kemampuan serupa jika hanya bergantung pada AI.
Karena itu, manusia tetap dibutuhkan sebagai pengambil keputusan akhir. Sebab, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar dan tetap harus diverifikasi berdasarkan fakta serta bukti.(iss/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

