Sabtu, 3 Oktober 2026

Lebih dari 4.000 Orang Meninggal Akibat Wabah Ebola di Kongo

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Petugas medis melakukan pengujian virus Ebola di laboratorium bergerak yang didirikan di Butembo, Kongo. Foto: Al Jazeera/ AP News

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo atau DRC telah membuat lebih dari 4.000 orang meninggal, sejak dinyatakan merebak pada Mei lalu. Berdasarkan data pemerintah, wabah ini menjadi epidemi Ebola terburuk dalam sejarah negara tersebut.

Data yang dirilis pada Jumat (2/10/2026), menunjukkan jumlah korban meninggal meningkat menjadi 4.018 orang. Sementara itu, kasus terkonfirmasi mencapai 8.300 yang tersebar di tujuh provinsi.

Pemerintah DRC masih kesulitan membendung penyebaran wabah tersebut. Lemahnya infrastruktur, wilayah terdampak yang terpencil di bagian timur DRC, serta konflik bersenjata di dekat perbatasan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda menghambat respons cepat dan efektif terhadap kasus-kasus baru.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat melaporkan, sebuah kamp terdampak Ebola yang menampung pusat transit bagi pasien terinfeksi dibakar tentara pada awal pekan ini.

Tentara disebut tengah mencari senjata di pinggiran Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah Ebola. Insiden tersebut memaksa sekitar 19.000 orang meninggalkan kamp yang membuat penanganan wabah itu makin sulit.

“Tantangan besar untuk menghentikan penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo menjadi semakin berat setelah pusat transit utama bagi pasien yang membutuhkan perawatan terbakar di Provinsi Ituri,” kata PBB seperti dikutip Al Jazeera.

Selain faktor keamanan dan infrastruktur, ketidakpercayaan serta kemarahan warga terhadap tenaga kesehatan dan otoritas juga menjadi hambatan dalam upaya pemerintah mengendalikan wabah.

Bahkan, seorang anggota senior partai berkuasa DRC, Union for Democracy and Social Progress (UDPS), dipukuli hingga meninggal beberapa hari lalu setelah mengikuti program radio untuk meningkatkan kesadaran publik tentang epidemi Ebola.

Korban bernama Marie-Celestin Karondwa, pejabat lokal UDPS. Ia diserang di rumahnya di Butembo, salah satu titik panas Ebola di Provinsi North Kivu bagian timur. Rumahnya kemudian dibakar, dan ia meninggal di rumah sakit akibat luka-luka yang dideritanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan epidemi ini “masih jauh dari selesai”. WHO juga menyebut wabah tersebut berada di jalur untuk melampaui wabah Ebola Afrika Barat pada 2014-2016, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang, terutama di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Epidemi saat ini disebabkan oleh strain Ebola Bundibugyo. Wabah ini menjadi yang terbesar dan paling mematikan di DRC setelah melampaui epidemi 2018-2020.

Sejumlah pengobatan dan vaksin tengah diuji untuk melawan Bundibugyo. Namun, hingga saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan yang disetujui. Wabah terbaru ini merupakan wabah Ebola ke-17 di DRC. Penyebarannya berlangsung cepat sejak resmi diumumkan pada 15 Mei.

Sejauh ini, lebih dari 2.000 pasien dinyatakan pulih dari epidemi Ebola tersebut. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika dalam konferensi pers terbarunya menyebut jumlah kasus terkonfirmasi mulai menurun.

Namun, penurunan itu bisa jadi dipengaruhi oleh kondisi keamanan yang buruk dan sulitnya membangun kerja sama dengan masyarakat di beberapa titik panas wabah. (bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 3 Oktober 2026
34o
Kurs