Senin, 5 Oktober 2026

Rektor UHT Surabaya: Generasi Penerus TNI Harus Kuasai Teknologi, Bukan Sebaliknya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
TNI AL mengikuti apel gelar pasukan Latihan Operasi Amfibi (Latopsfib) di Dermaga Madura Koarmada II, Ujung Surabaya, Sabtu (1/8/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) jadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi generasi penerus Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Ir. Avando Bastari Rektor Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya mengatakan, situasi saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika dirinya menjalani pengabdian selama 35 tahun di TNI.

Karenanya, calon prajurit dituntut mampu beradaptasi dan menguasai teknologi, tetapi tetap mengandalkan kemampuan berpikir, analisis, disiplin, serta kerja sama. Menurutnya, teknologi dan AI telah memberikan pengaruh besar terhadap generasi muda.

“Teknologi ataupun AI ini bukan untuk kita jauhi, tapi justru bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi itu membantu tugas-tugas kita. Namun demikian, bukan berarti teknologi menguasai kita. Jadi kita yang mengendalikan,” kata Avando saat on air di Radio Suara Surabaya, Senin (5/10/2026), bertepatan dengan momen HUT ke-81 TNI.

Baca juga: Pengamat ISSES Ingatkan Kehadiran TNI Harus Perkuat Negara Tanpa Ambil Alih Fungsi Sipil

Ia menekankan, prajurit TNI masa kini harus memiliki kemampuan teknologi yang semakin baik. Kemampuan itu juga harus diiringi kebijaksanaan dalam mengolah informasi, terutama ketika arus informasi dari media sosial semakin besar.

“Jadi dengan kondisi sekarang prajurit TNI itu harus menguasai teknologi, jangan kita yang dikuasai oleh teknologi. tapi kita memanfaatkan teknologi secara bijak, itu yang paling penting,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Avando, karena menurutnya salah satu kecenderungan generasi muda saat ini adalah mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan teknologi untuk menjawab atau menyelesaikan persoalan.

“Teknologi tidak punya empati. Teknologi tidak punya daya pikir nalar. Artinya bahwa ide yang keluar dari generasi muda secara murni, secara utuh, itu adalah yang terbaik daripada hasil yang dikeluarkan oleh teknologi berupa AI.,” jelasnya.

Karena itu, generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum menarik kesimpulan maupun mengambil tindakan. Avando mengatakan, kemampuan tersebut juga ia pelajari ketika bertugas sebagai staf di Angkatan Laut.

Seorang prajurit harus mampu melihat persoalan secara luas, mengumpulkan informasi, menganalisis keadaan, menyusun rencana, hingga memperhitungkan risiko dari keputusan yang diambil.

“Sehingga saya menyampaikan kepada generasi muda, bahwa teknologi yang berkembang bukan ancaman, justru kita harus memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, kita tidak dikuasai oleh teknologi, justru kita yang harus mengendalikan teknologi,” bebernya.

Selain penguasaan teknologi, Avando menilai calon prajurit perlu membangun kesiapan mental, kedisiplinan, kemampuan bekerja di bawah tekanan, serta kerja sama tim.

“Di kapal perang saya belajar bagaimana pentingnya kesiapan, kemudian disiplin dan juga kerja tim. Setiap anggota kapal itu harus bisa memahami tugasnya karena pekerjaan orang per orang berkaitan dengan keselamatan dan keberhasilan tugas yang diemban kapal perang,” katanya.

Bagi generasi muda, pengalaman itu berarti setiap calon prajurit perlu menyiapkan diri dengan baik, tetap tenang dalam tekanan, dan mampu bekerja bersama orang lain.

Kemampuan komunikasi juga menjadi modal penting. Dari pengalamannya dalam sejumlah misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Avando belajar bekerja bersama personel dari berbagai negara dan latar belakang budaya.

Menurutnya, calon prajurit harus mampu berkomunikasi, menghargai perbedaan, serta membangun kepercayaan, terlebih ketika membawa nama Indonesia dalam penugasan internasional.

Momentum HUT ke-81 TNI yang diperingati Senin ini, menurut Avando, juga menjadi pengingat bahwa tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur” tidak boleh berhenti sebagai slogan.

“TNI kalau memang mau kuat bersama rakyat, berarti TNI harus berada di tengah-tengah rakyat. Karena memang TNI berasal dari rakyat untuk rakyat. Untuk bisa berada di tengah-tengah, TNI harus mendapat kepercayaan dari rakyat,” ujarnya.

Kepercayaan itu, lanjutnya, harus dibangun dengan keteladanan, peran sebagai pengayom, serta kehadiran yang membawa kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman bagi masyarakat.

“TNI harus memberikan teladan kepada rakyat, harus bisa menjadi pengayom. Kehadiran TNI di tengah-tengah rakyat tentunya membawa kedamaian, ketenangan, ketenteraman. Sehingga rakyat bersama-sama dengan TNI ikut membangun negara ini,” pungkasnya. (bil/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Senin, 5 Oktober 2026
34o
Kurs