Minggu, 11 Oktober 2026

Psikolog: Musik Bisa Bantu Kenali Emosi dan Jaga Kesehatan Mental

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi seorang pria mendengarkan musik sambil berjalan. Foto: The Real Easy ED

Larasati Margaretha Soetrisno, psikolog klinis dewasa lulusan Universitas Padjadjaran mengatakan musik memiliki peran penting sebagai ruang untuk mengenali perasaan, mengekspresikan emosi, dan menjaga kesehatan mental.

Mengutip penelitian dari Chemnitz University of Technology di Jerman, Larasati menyebut orang mendengarkan musik bukan hanya untuk hiburan. Ada yang mendengarkan musik untuk mengatur suasana hati, memahami diri sendiri, bahkan merasa terhubung dengan orang lain.

“Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya, sehingga ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan,” kata Larasati di Jakarta, Minggu (11/10/2026) dikutip Antara.

Menurut Larasati, kemampuan mengenali emosi menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental. Dalam konteks itu, musik dapat membantu seseorang menemukan representasi dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan.

Selain membantu mengenali emosi, musik juga bisa menjadi sarana mengekspresikan perasaan. Larasati menyebut penelitian yang diterbitkan dalam Psychology of Music menunjukkan aktivitas bermusik, mulai dari mendengarkan, memainkan, hingga menciptakan musik, bermanfaat dalam membantu regulasi emosi.

Ia menjelaskan, mendengarkan musik dapat membuat seseorang merasa terwakili. Sementara bernyanyi, memainkan alat musik, atau menulis lagu bisa menjadi cara untuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres.

Salah satu contohnya terlihat dari karya musisi YE yang akan menggelar konser “YE Live in Jakarta” di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 24 Oktober 2026.

Dalam lagu “Ghost Town”, YE mengangkat tema pergulatan emosional, kerentanan, dan keinginan untuk menemukan kebebasan. Sementara “Reborn” menggambarkan pengalaman menghadapi masa sulit, menemukan kembali harapan, dan terus bergerak maju.

Larasati mengatakan, sebuah lagu juga dapat membawa seseorang merasakan pengalaman orang lain. Dengan begitu, musik bisa menciptakan koneksi emosional dan membuat seseorang merasa lebih dipahami. Menurutnya, secara psikologis manusia memiliki kebutuhan untuk didengarkan dan dipahami.

Larasati menilai musik dapat menjadi salah satu bentuk coping dalam menghadapi tekanan atau situasi yang terasa berat. Secara sederhana, coping adalah upaya seseorang untuk merasa lebih nyaman atau tenang ketika menghadapi stres. Namun, ia mengingatkan bahwa manfaat musik tetap memiliki batas.

“Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya,” ujarnya.

Larasati juga menjelaskan bahwa musik dapat membantu seseorang menyadari kapan perlu mencari dukungan profesional. Ia menyebut ada empat tanda yang dikenal sebagai “4D” dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Keempat tanda itu meliputi distress, yakni tekanan emosi yang terasa berat dan berkepanjangan; deviance, yakni pikiran dan perilaku yang berbeda dari norma yang berlaku; dysfunction, ketika kondisi mulai mengganggu aktivitas dan peran sehari-hari; serta danger, yakni munculnya pikiran atau perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun lingkungan.

Jika kondisi tersebut mulai mengganggu keseharian, Larasati menyarankan seseorang berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental agar mendapat dukungan yang sesuai. (ant/bil/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Minggu, 11 Oktober 2026
34o
Kurs