Jumat, 23 Oktober 2026

BNPT Perkuat Strategi Lawan Propaganda Radikal, Libatkan Pelajar untuk Produksi Konten Damai

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Irjen Pol. Wawan Ridwan (tengah) Plt. Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT saat berada di Surabaya. Foto: Risky suarasurabay.net

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat upaya pencegahan penyebaran paham radikal di ruang digital dengan melibatkan pelajar untuk memproduksi konten perdamaian.

Irjen Pol. Wawan Ridwan, Plt. Deputi Bidang Kesiapsiagaan Nasional dan Kontra Radikalisasi BNPT mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mengimbangi propaganda ideologi kekerasan yang semakin banyak menyasar generasi muda melalui media sosial, hingga gim online.

“Kalau dulu secara konvensional mengajak dari door to door, sekarang polanya berubah. Mereka menyebarkan jaringan melalui media sosial,” terangnya, Jumat (23/10/2026).

Wawan menekankan, penyebaran ideologi kekerasan melalui ruang digital perlu diantisipasi karena berlangsung lebih cepat dibandingkan pendekatan konvensional.

Dengan pola penyebaran yang lebih cepat, menurutnya yang menjadi sasaran saat ini adalah kelompok rentan, seperti anak-anak dan perempuan, terutama karena tingginya aktivitas mereka dalam menggunakan perangkat digital.

Ia mengungkapkan, anak-anak rengang usia 11 hingga 18 tahun telah ditemukan terpaparideologi kekerasan. Menurutnya, gim daring juga menjadi salah satu media yang perlu diwaspadai dalam proses penyebaran paham tersebut.

“Ada banyak beberapa contoh yang terjadi, kasus di SMA 72 Jakarta, kemudian di Sumatera Barat, kemudian di Kalimantan Barat dan sebagainya,” ucapnya.

BNPT mendorong generasi muda saat ini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga kreator yang mampu menyebarkan pesan positif.

Oleh karena itu, BNPT melatih pelajar untuk menghasilkan beragam karya, mulai dari video pendek, mikroblog infografis, hingga poster bertema perdamaian.

Wawan mengatakan, pelatihan tersebut juga bertujuan untuk membekali pelajar agar lebih bijak menggunakan gawai dan media sosial, termasuk mengenali konten yang berpotensi mengarah pada kebencian maupun ideologi kekerasan.

“Tujuannya, bagaimana kita melakukan kegiatan pelatihan ini untuk membentengi anak-anak, agar menggunakan gawai atau media sosial ini secara bijak lagi. Sehingga mereka bisa tahu mana yang boleh, mana yang tidak, mana yang segala macam dan sebagainya,” jabarnya.

Lebih lanjut, pelatihan tersebut juga sebagai upaya memperkuat kesantunan dalam menyampaikan gagasan, mengecek kebenaran informasi sebelum membagikan, serta menghormati privasi dan hak cipta dalam pembuatan konten.

BNPT berharap karya yang dihasilkan pelajar, kanal resmi sekolah, hingga jejaring digital peace creator bisa membangun ruang digital yang lebih aman, damai, edukatif, mengedepankan toleransi, kebinekaan, hingga menumbuhkan empati sosial

Seperti diketahui, BNPT sebelumnya juga menggelar kegiatan serupa di Sumatera Utara dengan menyasar para guru. Sementara di Jawa Timur, pelatihan difokuskan langsung kepada pelajar agar mereka memiliki bekal untuk mengenali sekaligus menangkal propaganda radikal di lingkungan digital.(ris/bil/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Jumat, 23 Oktober 2026
35o
Kurs