Minggu, 29 November 2020

Sate Karak, Kuliner Baheula yang Hampir Punah

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Sate karak disajikan bersama bumbu kacang, nasi ketan hitam, parutan kelapa dan bubuk kedelai. Foto: Dhafin suarasurabaya.net

Sebuah warung lawas menjual sate karak, yang dijalankan turun-tenurun selama tiga generasi di kawasan Ampel mencoba menantang zaman, mengakrabi modernisasi di sekitarnya.

Rabu (5/8/2020) petang lalu, tim suarasurabaya.net mengunjungi warung di mulut gang Ampel Lonceng. Seorang wanita paruh baya tampak terburu-buru merapikan dagangannya, mengangkat teko dari pembakaran, menutupi sate dengan kertas seadanya, membiarkan warungnya kosong tanpa penjagaan.

“Sebentar mbak, saya Maghrib-an dulu ya,” kata wanita berkerudung, yang mengenalkan dirinya dengan Elis. Elisawati nama lengkapnya.

Empat tusuk sate jeroan sapi sedang dibakar di atas pembakaran berbahan arang. Foto: Dhafin suarasurabaya.net

Usai menunggu sekitar 30 menit, Elis kembali. Sembari membakar empat tusuk sate di atas bara api, Elis bercerita tentang usahanya ini. Ia lupa sejak kapan warung satenya berdiri. Sebisa ingatannya adalah, dia hanya membantu neneknya berjualan sejak kecil, dan neneknya lah yang mengawali berjualan sate karak di kawasan Ampel.

“Dulu nenek yang jualan, ndak tahu tahunnya. Kalau saya sudah 20 tahunan. Warung ini dijalankan tiga generasi, dari ibunya nenek turun ke nenek. Belum sempat turun ke ibu, karena meninggal duluan, saya yang nerusin,” kisah Elis.

Dijelaskan oleh Elis, kalau sate karak adalah kuliner asli Ampel. “Kalau bukan orang Ampel, nggak tahu kuliner ini, walaupun orang Surabaya sekalipun. Tapi kalau orang Ampel, pasti tahu sate karak,” tuturnya.

Dari awal berdiri, warung sate karak ini sudah ada di mulut gang Ampel Lonceng, tidak pernah pindah. Walaupun geliat di Jalan K.H. Mas Mansyur sudah banyak berubah selama 20 tahun terakhir.

Sesuai dengan namanya, mungkin yang ada di bayangan adalah sate karak yang terbuat dari karak alias nasi yang dikeringkan. Segera hapus bayangan ini dari benak Anda, karena sate karak ini jauh dari definisi tersebut. Sate karak di sini adalah sate dari daging atau jeroan sapi yang disajikan bersama bumbu kacang, nasi ketan hitam, bubuk kelapa dan serundeng.

Yang membuatnya unik dan disebut sate karak adalah ketan hitam yang digunakan sebagai pengganti nasi. Sebenarnya Elis juga menyediakan nasi putih, untuk pelanggan yang tidak suka ketan hitam. Tapi sate karak bukanlah sate karak bila tak memakai nasi ketan hitam.

Rasa Tak Berubah

Dapur Elis mengepul sejak subuh sampai siang, mengolah masakannya untuk dijual. Tiap harinya, warung yang buka jam 16.00-24.00 ini bisa mengolah 5 kilo daging dan jeroan sapi, dan 4 kilo beras ketan hitam.

Elis mengaku, sejak ia masih membantu neneknya sampai sekarang diteruskannya, tidak ada yang berubah dari segi rasa dan bumbu yang digunakan. “Bumbunya bumbu jangkep,” katanya mantap.

Yang berubah tentu saja dari segi harga. Seporsi sate karak di sini pernah dibanderol harga mulai dari Rp 1.500,-, Rp. 5.000,- sampai sekarang Rp. 13.000,-.

Laju kendaraan Zahir membawanya ke warung kecil Elis sepulang kerja. Pria 27 tahun ini jadi pelanggan tetap sejak kecil, sekira usianya 7 tahun. Zahir tahu dan langsung jatuh cinta kepada sate karak ini dari orang tuanya, karena rumahnya di sekitar Ampel.

Rasa yang unik dan tidak berubah sejak kecil membuat Zahir tidak pindah ke warung sate karak lainnya. “Rasanya kurang lebih sama, cuma tidak seramai dulu. Sekarang kan banyak pilihannya, makanan lama makin tersingkirkan,” sergahnya.

Ia mengeluhkan sate karak yang jarang ia temui akhir-akhir ini karena yang berjualan perlahan hilang. “Dulu ada yang jualan keliling Ampel, tapi udah meninggal. Ya di sini satu-satunya yang masih jualan,” ceritanya.

Begitu pun dengan yang dirasakan Elis, pengunjung yang tidak seramai dulu juga dirasakannya selama beberapa tahun ke belakang. Entah apa musababnya, alasan ekonomi atau kuliner lawas tak lagi digemari, Elis tak tahu pasti.

Bagi bisnis kuliner yang dijalankan dengan sederhana dan turun temurun, kekhawatiran tidak bisa bertahan itu pasti ada. Meredup sebelum perlahan hilang, generasi selanjutnya jadi tumpuan.

Elis, pedagang sate karak di mulut gang Ampel Lonceng. Foto: Dhafin suarasurabaya.net

Yang Elis tahu waktu itu, ketika meneruskan usaha dari neneknya ini adalah semata karena pelanggan setia. “Sayang, langganannya nenek udah banyak. Kalau lebaran, kadang ada satu keluarga yang ke sini rame-rame, bawa anak cucunya.”

Kekhawatiran tidak bisa menurunkan ke anak cucunya dirasakan betul oleh Elis. Sebagai ibu dari empat orang anak dan seorang cucu, ia pasrah dengan keadaan, terlebih usianya yang tak lagi muda.

“Ya ndak tahu mbak, anak jaman sekarang. Anakku gak ada yang mau nerusin kayaknya. Tapi gak tahu sih, sik arek bekne. Barang kali nanti, lek wes rumah tangga ngerasakno,” curhatnya. (fin/tin)

 

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Minggu, 29 November 2020
25o
Kurs