Sabtu, 17 Oktober 2026
Jajaki Investasi di Jatim

Asosiasi Sepatu Taiwan Minta 8 Persyaratan

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Asosiasi Sepatu Taiwan (Taiwan Footwear Manufactures Association akan mendatangkan puluhan investor untuk berinvestasi di Jawa Timur. Hanya saja, investasi itu akan direalisasikan jika pemerintah daerah bisa menyiapkan 8 persyaratan.

Delapan persyaratan yang diajukan asosiasi harus direvisi atau diperbaiki. Kata ALIANTO WIBOWO Sekjen Apindo Sidoarjo pada suarasurabaya.net, Sabtu (28/07), persyaratan tersebut yakni ijin industri fasilitas di kawasan industri diminta tanpa ijin prinsip, ijin lokasi dan HO; UU Tenaga Kerja harus direvisi; masalah bea cukai diganti SGS, masalah Perda ditinjau ulang, masalah imigrasi seperti ijin visa, biaya fiskal, ijin tinggal, pelatihan kerja yang cukup tinggi sekitar US$ 1.200; masalah perpajakan restitusi, soal tarif tidak menentu PLN dan masalah retribusi air, listrik, lampu jalan dan sampah.

ALIANTO yang juga Ketua Perwakilan Perdagangan Pengusaha Taiwan menjelaskan kalau pemerintah daerah bisa memenuhi delapan persyaratan tersebut, mereka siap masuk dengan membawa puluhan investor Taiwan. Berikut penjelasan ALIANTO, .

Investor Taiwan pada umumnya berbisnis di usaha padat karya. Sektor yang dikembangkan selain sepatu adalah tas. Setiap investor yang akan berinvestasi di Jawa Timur, mampu menyerap tenaga kerja hingga 1000 orang.

Kalau jumlah investor yang datang 50 saja, kata ALIANTO, dipastikan bisa menyerap 50 ribu tenaga kerja. “Asosiasi diwakili empat anggotanya sudah berdialog dengan Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur. Mereka tinggal menunggu realisasi dari BPM,”ujarnya.

Sementara itu, SISWANTO PRAWIRA DPK Apindo Sidoarjo mengatakan ketertarikan investor Taiwan ke Jawa Timur tidak lepas dari bisnis yang terus berkembang. Investor umumnya mencari tempat yang murah berinvestasi.

Selama ini, Indonesia satu diantara negara yang memungkinkan investor Taiwan berinvestasi. Hanya saja, ini terkendala dengan kepentingan otonomi daerah. “Untuk itu terpenting adalah bagaimana daerah setempat yang diminati investor asing, siap dengan kondisi yang diinginkan mereka. Jangan sampai investor sudah membangun dengan biaya mahal tapi bisnisnya tidak berkembang,”ujarnya.

Terkait lumpur Lapindo, SISWANTO menegaskan, tidak signifikan berpengaruh pada investor asing tetapi tetap diperhitungkan. Ini dipicu efek yang dirasakan dan penanganan lumpur Lapindo terus berlanjut.

Bahkan 27 perusahaan yang terendam lumpur, kata SISWANTO, mau relokasi tidak ada biaya, belum diberi kompensasi memadai untuk investasi lagi, penyelesaian berlarut-larut siapa yang bertanggungjawab, terjadi tarik ulur dan sedikit banyak akan menjadi hambatan bagi investor.
Menurut SISWANTO, memang daerah investasi tidak hanya Sidoarjo, tapi terbuka di Lamongan dan Gresik masih bisa dibangun. “Investor sepatu Taiwan akan menunggu realisasi pembangunan Tol Porong. Dengan adanya jalur tol baru, otomatis bisa mengurangi gangguan distribusi barang,”pungkasnya. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Sabtu, 17 Oktober 2026
29o
Kurs