Kehadiran produk buah impor dengan harga relatif lebih murah, menjadi titik kelemahan Indonesia. Daya saing produk buah lokal makin terpuruk meski dari sisi potensinya cukup besar.
UMAR ALAYDRUS eksportir buah Jawa Timur pada suarasurabaya.net di sela Refleksi Ekonomi 2007, Kamis (27/12), mengatakan, produk buah impor bisa memberikan harga relatif murah karena mendapat subsidi dari pemerintahnya. Ini sangat menguntungkan importir karena dengan membeli produk impor berkualitas bagus, bisa dijual dengan harga murah di Indonesia.
Berbeda halnya dengan di Indonesia, pemerintah tidak mendukung. Bahkan penyuluhan kepada petani tidak mengarah pada peningkatan kualitas ekspor.
Kehadiran produk buah impor, menurut UMAR, jelas semakin menguntungkan importir. Setiap importir biasanya mendapatkan keuntungan sekitar 10%-15%. Sementara toko mengambil keuntungan cukup besar hingga 30%.
“Kalau kita membeli buah kelengkeng impor di toko buah seharga Rp 10 ribu/kg. Harga sebenarnya dari negara asal hanya Rp 5000/kg,”ujarnya.
Yang membuat ironis lagi, cerita UMAR, produsen buah mangga Indonesia harus bersaing dengan produsen mangga Mesir yang notabene benihnya dari Indonesia. Tahun 1956, benih mangga A Soekarno sebanyak 2 kapal dikirim ke Mesir. Di Mesir, benih ditanam dan dirawat.
“Saat ini, Mesir menjadi ekportir terbesar mangga untuk pasar Eropa sampai Singapura. Di pasar Singapura ini, mangga Mesir dijual lebih murah dengan kemasan lebih ‘cantik’ dan kualitas bagus. Padahal dari Mesir ke Singapura memakan perjalanan 9 jam. Sementara mangga Indonesia hanya diangkut selama 2 jam perjalanan tidak mampu menawarkan harga murah,”papar UMAR.
UMAR berharap pemerintah di tahun 2008 mendatang bisa memberikan perhatian lebih pada produk buah Indonesia. Konsumen Indonesia layak mengkonsumsi buah berkualitas ekspor dan jangan sampai buah impor mendominasi pasar buah di Indonesia. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

