Sampai akhir 2007, belum ada goodwill pemerintah untuk menggerakan sektor perkebunan dan pertanian. Sektor yang tidak terpengaruh krisis ekonomi, dibiarkan berjalan apa adanya.
Analisa ini disampaikan M ZAKI Pengurus Asosiasi Perkebunan Jawa Timur dalam Refleksi Ekonomi yang digelar Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, Kamis (27/12).
Pada suarasurabaya.net, ZAKI mengatakan, perhatian pemerintah terhadap sektor perkebunan dan pertanian belum maksimal dan menganggap sektor marjinal. Padahal, 90% pergerakan ekonomi di Indonesia ditopang sektor perkebunan dan pertanian.
“Seharusnya pola kemitraan terpadu yakni plasma dan inti plasma menjadi prioritas. Ada loan bagi petani dan pekebun agar kesejahteraan mereka meningkat,”ujarnya.
ZAKI menjelaskan sektor perkebunan memiliki harga yang semakin bagus. Misalnya, karet saat ini mencapai Rp 18.200/kg, padahal sebelumnya hanya di kisaran Rp 17.800-Rp17.900/kg.
Pada produk karet, sebut ZAKI, pengusaha sudah mampu mengolah getah karet putih menjadi RS (rubber set) kualitas satu. Produksi yang dihasilkan khusus memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang cukup tinggi.
Begitu pula dengan kopi yang potensi ekspornya cukup luas. Bahkan di China, banyak yang mengenal kopi Java. Tapi kenapa petani kopi Jawa Timur kalah dengan Vietnam ?
“Seharusnya pemerintah berpikir tentang ekspor impor yang ber-added value. Petani dididik secara benar mulai pembibitan, pemilihan benit, penanaman sampai paska panen. Selama ini, petani kopi kita memanen kopi tidak petik merah. Jadi kualitas bukan ekspor,”tukasnya.
ZAKI meminta pemerintah lebih memperhatikan persoalan ini. Apalagi setelah terjadi industrial shock, 75% industri collapse ke sektor trading. Saat ini jika pengusaha dihadapkan pada pilihan membangun industri baru atau memilih perusahaan jasa perdagangan (trading), akan memilih membangun trading company.
“Karena dihadapkan pada kondisi makro ekonomi, ditambah kenaikan BBM industri, listrik serta kenaikan UMK, lebih menguntungkan kalau membangun trading company,”pungkasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

