Hypermart sudah mengembalikan produk makanan China yang diduga mengandung formalin ke pemasoknya. Produk makanan tersebut lebih banyak didominasi manisan dan permen.
ARIFIN MULYAWAN Branch Manager Hypermart – Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Selasa (07/08), mengatakan, selama ini Hypermart menyediakan produk makanan China hanya sebagai variasi yang spesifik saja bagi konsumen. Jika dibandingkan dengan produk lokal, produk China sangat kecil sekali kurang dari 10%.
“Kita sediakan manisan dan permen untuk konsumen untuk memenuhi kebutuhan hari-hari besar seperti Imlek atau lebaran. Biasanya, saat tamu berkunjung ke rumah, kedua makanan itu melengkapi jajanan lainnya. Di luar momen, jarang konsumen membeli. Jadi tidak banyak yang kita sediakan di toko. Pemasoknya dari Surabaya dan luar Surabaya,”ujarnya.
Menurut ARIFIN, manisan China yang dipilih dan dijual di Hypermart adalah produk yang tidak ada di lokal. Misalnya, manisan plum belum dibuat di lokal dan hanya ada dari China. Begitu pula dengan white rabbit, yang sudah dipasarkan di Indonesia lebih dari 25 tahun baru kali ini masuk daftar BB POM.
ARIFIN menilai public warning BB POM hendaknya ditindaklanjuti dengan klarifikasi detil tentang produk makanan China yang benar-benar mengandung formalin. Pasalnya, kalau hanya menyebutkan jenis makanannya saja, akan menyusahkan penjual.
“Kalau menyebutkan manisan hendaknya dilengkapi dengan manisan merek apa dan dibuat pabrik mana. Karena manisan China cukup banyak jenis dan ragam buahnya. Pihak toko akan sulit mendeteksi apakah manisan mengandung formalin atau tidak, meski yang masuk ke toko sudah ada label MD (produk dalam negeri) dan ML (produk impor). Kita tidak mungkin menyeleksi kandungan bahan produk yang masuk ke toko,”paparnya.
IRAWAN KADARMAN Public Relations Manager Carrefour dihubungi terpisah mengatakan di Carrefour memang ada produk makanan China berlabel ML. Hanya saja, apakah produk tersebut mengandung formalin atau tidak, pihaknya tidak tahu. Kalau memang mengandung formalin meski sudah berlabel ML, pihaknya akan mengembalikan ke pemasok.
Setiap produk yang akan masuk ke toko, kata IRAWAN, harus melaksanakan dua persyaratan. Pertama, pemasok membuat pernyataan bahwa produknya tidak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti borax, formalin dan juga virus flu burung. Kedua, tidak adanya kandungan bahan-bahan tersebut juga harus dikuatkan dengan pernyataan instansi yang berwenang.
“Kedua pola itu kita terapkan. Apalagi sejak akhir 2005, muncul isu soal makanan mengandung borax, formalin dan terakhir ini masalah flu burung. Produk mamin impor di Carrefour prosentasenya hanya 5% selebihnya produk lokal. Produk impor itu pun tidak hanya dari China tapi dari negara lainnya,”ungkap IRAWAN.
IRAWAN menilai public warning yang dilakukan BB POM sudah cukup baik. Artinya, public warning itu tidak sekadar rumor, tapi daftar produk makanan China yang mengandung formalin, memudahkan pihak retail. Apalagi daftar tersebut sudah disertai surat resmi BB POM. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

