Kamis, 6 Agustus 2026

Surabaya Jadi Kota Destinasi Investasi Internasional

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Jamhadi Ketua Kadin Surabaya saat menjadi pembicara dalam Koordinasi Perencanaan Penanaman Modal (KPPM) di Sidoarjo, Rabu (21/11/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net

Pemerintah Kota Surabaya berhasil membukukan investasi senilai kurang lebih Rp50 triliun hingga Oktober 2018. Realisasi investasi yang masuk ini sudah lebih tinggi dari target investasi 2018 senilai Rp41 triliun.

Nilai itu sebagaimana dicatat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Surabaya. Pada 2019 mendatang, DPM-PTSP ditarget peningkatan investasi sebesar 10 persen.

Witarko Kepala Seksi Promosi DPM-PTSP Surabaya menjelaskan, sejumlah investasi yang masuk ke Surabaya itu masih didominasi penanaman modal dari sektor non fasilitas sebanyak 9.610 izin usaha.

Sedangkan Penanam Modal Asing (PMA) yang masuk ke Surabaya sebanyak 44 izin usaha dan tiga izin usaha dari Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN).

“PMDN nilainya Rp140 miliar, PMA-nya 53,29 juta dolar, masih didominasi Singapura, China, Korea, dan Jepang. Sedangkan non fasilitas, ini UMKM, nilainya Rp49,55 triliun,” ujarnya.

Salah satu yang menjadi target peningkatan penanaman modal di Surabaya adalah peningkatan kapasitas UMKM di Surabaya yang masih mendominasi. Caranya dengan berbagai pelatihan yang diberikan.

“Kami targetkan tahun depan peningkatan investasi di Surabaya ini meningkat 10 persen,” katanya.

Untuk merumuskan perencanaan program penanaman modal Surabaya supaya target 2019 tercapai, DPM-PTSP mengajak stakeholder di Surabaya berkoordinasi dalam sebuah pertemuan.

Koordinasi Perencanaan Penanaman Modal (KPPM) bertema “Penguatan Daya Saing Investasi dalam Mewujudkan Surabaya Kota Destinasi Investasi Berkelas Dunia” digelar di sebuah rumah makan di Jalan Juanda, Sidoarjo, Rabu (21/11/2018).

Hadir menjadi pembicara dalam pertemuan itu Ir Jamhadi Ketua Kamar Dagang Indonesia dan perwakilan dari Komisi Pengawasan Penyelenggaraan Otonomi Daerah (KPPOD).

Jamhadi berpendapat, saat ini, jumlah investasi di Surabaya sudah cukup menggembirakan.

“PDRB Surabaya Rp480 T, 24 persen dari PDRB Jatim Rp2.064 T. Perdagangan dan jasa memang terbesar ada di Surabaya, selain itu di Jatim ini ada 38 negara yang berinvestasi dan berwisata, kebanyakan tinggal di Surabaya,” ujarnya.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar Surabaya menjadi destinasi investasi berkelas dunia. Salah satunya, Surabaya harus menjadi pusat logistik demi menopang sektor perdagangan dan jasa.

“Memang secara keseluruhan, indeks logisitik Indonesia berdasarkan data OECD berada di urutan ke-46 dari 196 negara. Sudah meningkat dari sebelumnya posisi ke-63. Kita tahu, belakangan banyak dibangun infrastruktur,” ujarnya.

Tapi itu saja tidak cukup. Jamhadi yang sempat mempromosikan Surabaya dan Jatim ke luar negeri mengatakan, program Online Single Submission (OSS) yang dicanangkan pemerintahan kali ini sangat dipuji.

“Surabaya harus terintegrasi dengan pusat. OSS harus diterapkan, meskipun sudah ada Surabaya Single Windows. Kenapa banyak dipuji, karena program ini lebih memudahkan investor,” katanya.

Selain itu, menurutnya, Surabaya juga perlu menerapkan skema Public Private Partnership (PPP). Jawa Timur sudah melakukan ini untuk proyek SPAM Umbulan. Surabaya, kata dia bisa menerapkannya juga.

“Misalnya, untuk transportasi massal. MRT atau LRT di Surabaya itu bisa diwujudkan dengan skema ini,” ujarnya.

Hal lain yang harus ada di Surabaya adalah World Trade Center, di mana perusahaan-perusahaan yang telah listed di Bursa Saham terjangkau oleh para investor dari berbagai negara.

“Kalau WTC yang ada itu kan tadinya mau dibikin seperti itu tapi tidak fungsi akhirnya jadi pusat jual beli HP,” ujarnya sembari tertawa.

Selain yang sudah dia sampaikan, ada satu hal lagi yang selaras dengan program yang akan dilakukan DPM-PTSP bersama OPD terkait di lingkungan Pemkot Surabaya, yakni peningkatan jumlah enterpreneur.

Berdasarkan Global Enterpreneurship Index 2018 yang dikeluarkan oleh World Bank, Indonesia berada di urutan ke-21, di atas Kamboja, tapi masih di bawah Philipina dan Thailand.

“Jadi harus ditingkatkan. Di Surabaya ini, industri besar hanya 0,2 persen, menengah 2 persen, sedangkan UMKM 97 persen. Saya kira industri kreatif di Surabaya yang masih 21 persen perlu ditingkatkan. Ini masih di bawah kota di Jawa Barat yang industri kreatifnya 33 persen,” ujarnya.(den/rst)

Soerabaja10k
Berita Terkait


TERKINI POPULER TERPILIH
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Kamis, 6 Agustus 2026
31o
Kurs